Senin, 28 September 2020

KEMANDIRIAN ALA SIKEMBAR

 


doc.pribadi

Hikmah di balik pandemi adalah semakin menambah kemandiriannya si anak. Salah satunya adalah putra - putri kami. Sebelum pandemi anak-anak kami bersekolah di sekolah full day. Si kembar belajar sampai sore sedangkan adik-adiknya di penitipan anak sampai bunda pulang baru dijemput. kondisi pandemi ini akhirnya mengharuskan mereka berada di rumah tanpa ditungguin asisten, karena kamipun juga tidak memiliki asisten.

Akhirnya kami berbagi tugas, agar semua beres sebelum kami berangkat. Tiga bulan awal pandemi kami masih banyak Work From Home (WFH) sehingga semakin mantap dalam mendampingi kemandirian mereka. Mulai ibadahnya, mengerjakan tugas-tugasnya,dan juga tugas menjaga adiknya. Masing-masing dari si kembar menjadi asisten dari 2 adiknya, satu untuk adik TK dan satunya untuk sibayi 2 tahun. Jika adiknya membutuhkan sesuatu maka asisten inilah yang berperan mendampingi dan mengambilkan.

Termasuk didalamnya jika si bayi menginginkan susu, ingin menonton tayangan video favoritnya Nussa Rara dan Omar Hana, bahkan termasuk ganti clody dan baju. Awal dulu kalau pub mereka tidak mau menggantikan. Byuh, kasihan sekali si bayi harus menunggu kami pulang. Tapi alhamdulillahnya baru dua kali saja saat pandemi ini, karena si bayi rutin BAB sebelum kami berangkat. Setelah itu kami memiliki challenge siapa yang mau membersihkan pub adik maka akan kami beri hadiah. Nah sejak itu mereka mau membersihkan tanpa menunggu kami pulang.


                                                                doc.pribadi

Sedangkan si sholih adiknya yang TK tidak terlalu banyak minta bantuan, mungkin hanya maem saja. Tapi lebih banyak minta ditemani main. Namun bagi si kakak yang paling sulit menenangkan kedua adiknya adalah si sholih ini, kalau main kadang beres-beresnya masih saja tetap kotor dan berantakan. Kadang minta maksa keluar rumah, padahal teman-temannya diluar bermain tidak memakai masker beberapa. Oleh karenanya kamipun mengunci semua pintu agar si sholih ini mengurungkan dirinya keluar. Karena kami justru kawatir jika main diluar.

Sebenarnya sangat dilema bagi kami berdua, kala harus bekerja kamipun tidak tega meninggalkan mereka sendiri berempat, tapi kami lebih tidak tega jika ada orang lain dirumah. Karena kami tidak bisa tracing orang tersebut dari mana saja, dan kamipun memang terbiasa tanpa asisten. Kalaupun kami titipkan di daycare, pasti juga bercampur dengan anak lain. Kami biasa titip sama pegawai yang kerja didepan rumah, untuk melihat mereka, sedang tidur atau apapun. Kadang juga di tilik sama neneknya siang hari, serta mengantar makanan untuk anak-anak.

Beberapa pekan setelah berjalannya waktu, kami mencoba evaluasi lagi, menanyakan pada mereka apakah keberatan. Alhamdulillah mereka menjawab tidak merasa keberatan. Meski dalam lubuk hati yang paling dalam kami sangat tidak tega dengan kondisi ini. si kakak yang baru kelas 3 SD saat awal pandemi dan kini sudah kelas 4 SD. Mereka memberi syarat harus banyak makanan dirumah, camilan harus jumlahnya melimpah. Bener saja, pengeluaranpun sama banyaknya kini mereka tidak jajan diluar, tapi kami harus menyediakan makanan dan jajan dirumah. Hampir tidak bisa menyimpan makanan. Hari itu dibelikan hitungan jam biasanya langsung habis. Alhamdulilahnya pas saya banyak work from home banyak coba resep kue, maka kalau longgar sayapun coba buatkan kue kesukaan mereka.

Akhirnya kamipun hanya bisa ikhtiar dan terus berdoa, serta berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.

 

 

Minggu, 27 September 2020

JADWAL HARIAN ALA SI KEMBAR

 



Dahulu awal saya ingin mengajarkan kedisiplinan pada anak-anak, saya buatkan jadwal harian weekdays dan weekends. Weekdays jadwal ketika mereka bersekolah yaitu Senin-Kamis, sedangkan weekends untuk hari Sabtu-Ahad.  Apa saja yang harus mereka lakukan saat di rumah maka saya tuangkan dalam bentuk jadwal yang saya tempel didinding kamarnya.

Bagaimana kisah penerapannya? Tentu saja tidak seperti yang dibayangkan, beberapa mereka tidak melakukan jadwal itu dengan baik atau mereka tidak mengerjakan tepat waktu dan itu terjadi beberapa kali. Saya buat setelah beberapa pekan saya ganti lagi, saya buat ganti lagi.

Akhirnya saya agak hopeless, gimana caranya agar mereka melakukan kegiatan sesuai jadwal. Da ini salah satu ikhtiar kami agar mereka disiplin sejak kecil. Karena pembiasaan di waktu kecil akan berpengaruh saat mereka dewasa.

Apalagi di masa pandemi ini, mereka lebih banyak di rumah. Jadwal harian akan membantu kami untuk mengotrol kegiatan mereka. Apalagi kami tidak bisa mendampingi mereka di rumah. Otomatis kami hanya bisa mengontrol mereka secara jarak jauh via telpon. Kalau kami di rumah maka kami bisa mengingatkan langsung.

Secara garis besar sebenarnya mereka paham, kapan harus beberes, kapan harus belajar, main, mengaji, sholat, tidur siang maupun waktunya makan. Namun kalau tidak di detailing kawatir waktu diantara kegiatan itu tidak termaksimalkan dengan baik. Karena pasti ada masa-masa mereka malas, atau kurang semangat.

Akhirnya qodarullah, pada beberapa pekan lalu ada tugas dari ustadzah nya untuk membuat jadwal harian. Karena mereka ada evaluasi ibadah dan sikap lewat buku evaluasi diri, maka mereka harus melakukan banyak kegiatan. Nah pikir saya kalau tidak dijadwal maka aka nada yang loss. Nah tugas ustadzah tersebut mereka buat sendiri, saya bantu buat detailing jamnya. Mereka yang mengisi tugasnya sendiri.

Bagaimana hasilnya, Alhamdulillah ternyata its work. Mereka lebih menikmati kegiatan yang mereka buat sendiri, meskipun lebih sederhana, mereka tulis sendiri dengan pensil dan bolpen, di tulis dikertas A4 dibagi dua. Jadi ingat nasehat guru saya, siapa yang suka menulis maka sebenarnya ada aliran energy ke otak yang membuat tulisannya itu lebih mudah diingat.

Seperti juga yang pernah di publish oleh harian Repulika co.id

Menurut penelitian terbaru yang dimuat di jurnal Psychological Science, mencatat dengan pulpen dan kertas, lebih meningkatkan kualitas belajar dibandingkan menggunakan laptop. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa menulis merupakan strategi yang lebih baik untuk menyimpan ide dalam waktu yang panjang. Selain itu, para peneliti mendapati bahwa menulis dapat menguatkan proses belajar yang tak dapat disamai dengan mengetik.
 Penelitian tersebut dilakukan psikolog dari Princeton dan Universitas California, Los Angeles, Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer. Mereka menguji efek menulis catatan pada mahasiswa dalam dua seri percobaan. Dua kelompok mahasiswa diminta mendengarkan materi kuliah dari dosen yang sama. Mereka diperbolehkan menggunakan semua strategi untuk menyimpan hal-hal penting di perkuliahan.

Satu setengah jam kemudian, partisipan diuji soal materi kuliah itu Hasil studi menunjukkan, mahasiswa yang menggunakan laptop "miskin" soal ide.

 

Berbeda dengan yang saya buat, saya ketik dengan rapi, lebih artistik namun teryata secara hasil tidak seberapa maksimal seperti ketika mereka buat sendiri. Pantesan, batin saya. Ternyata menurut ilmu psikologi kualitas dengan tangan merupakan salah satu strategi dalam menyimpan ide lebih lama daripada melalui laptop, baik itu menulis laptop sendiri atau dituliskan. Nah pada kasus jadwal si kembar ini mereka saya tuliskan pisan. Wallohualam

Sabtu, 26 September 2020

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 4 “KATEGORI PAKAIAN”

 


                                                                    Sumber foto: google

Sobat sekalian pernah tidak menghitung. Berapa banyak jumlah Baju dilemari kita? Ada berapa jumlah

Atasan?

Bawahan?

Gamis?

Khimar?

Ciput?

Slayer?

Masker?

Manset atau Kaoskaki yang sepasang atau hanya tinggal sebelah?

Yuk sobat sekalian mari istighfar bersama jika kita merasa sulit menghitungnya. Dilemari kamar ini katanya isinya baju kita ajah, eh ternyata barang-barang kita ada juga dilemari nya anak-anak, dilemarinya suami. Bahkan di ruang yang kita sebut gudang.

Mari coba kita renungkan dari semua baju yang kita punya dan tumpuk di rumah apakah semua  dipakai? Atau yang mana yang sering kita pakai, apakah itu-itu saja? Hem….sepertinya yang nyaman hanya beberapa. Lah terus bagaimana dengan yang lain? Apa fungsinya mereka  menghuni di rumah kita? apakah  mereka ngontrak lemari kita ya? 

 Bagaimana tidak ngontrak atau bahkan seakan memiliki rumah kita, wong keberadaan mereka di rumah kita ada yang setahun,  hampir lima tahun bahkan sepuluh tahun dan sedihnya mereka tidak atau belum kita kenakan, dia hanya diam termenung, dan menumpuk di lemari kita. Bahkan…..sssttt kadang ada yang masih packingan dari toko dan masih ada tempelan harganya pula.

Ya Alloh…..segitunya ya kita, dulu pas beli baju buat apa? Sekedar inginkah karena trend atau kekinian modelnya? Atau memang butuh? Hem….jangan sampai  karena sebuah alasan kita mencoba memaksa memaklumi diri sendiri, “maklum lah kaum wanita suka belanja”. hiks……kalau ada diskon pinginnya sih tutup mata. Ternyata belum bisa. Termasuk saya salah satunya. Kalau mau belanja offline padahal sudah dicatat nih kebutuhan dari rumah, nyatanya ketika sudah on the spot, bakal ada barang-barang yang tak tercatat namun kebeli,  atau mau beli sesuatu via online pun juga demikian ketika melihat barang yang diskon sering kalah sama ajakan nafsu, terus dibayang bayangi syetan “ mumpung diskon” belum tentu ada diskon lagi. Duh ya Rabb!

Padahal kalau kita bisa mengekang  nafsu kita untuk membeli baju yang "sekedar ingin" tadi dengan baik, maka kita akan mampu menata pengeluaran dengan baik, uang tersebut bisa kita alokasikan ke yang lain yang lebih faedah. Dan pula masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita, walau hanya sekedar baju. Untuk kebutuhan primer yang namanya makan saja mereka susah makanya mereka tidak memikirkan baju. Eh….kitanya masih mikirkan menambah koleksi.

Ohya Ini masih soal baju kita lho ya, kita para kaum hawa belum ke baju keluarga kita, baju suami, baju anak-anak yang sudah mulai kekecilan dan mungkin penghuni lain di rumah kita. Maka sebuah pesan yang menarik dari sang mentor adalah jika kita menyortir barang termasuk kategori baju ini. cara yang paling gampang adalah tanyakan pada diri sendiri, setiap menyortir baju kita “ ini baju membuat saya bahagia atau tidak” kalau iya simpan. Tapi kalau tidak maka lepaskan, sedekahkan. Sekali lagi tinggalkan kata, nanti kalau dibutuhkan gimana? Insya Allah akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Sekali lagi jangan sampai karena masalah perbajuan yang jumlah over ini memperlama hisab kita nanti.

Yuk mari beristighar kembali dan saling mengingatkan ya sobat. wallohualam

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 3

 

Setelah mengikuti kelas berbenah sadis ini, rata-rata peserta belum bisa move on dari kegiatan dikelas.... Why not?  It's really nice class sobat.  Masya Allah takdir Allah luarbiasa, saya diberi kesempatan bergabung dikelas yang syarat ilmu perbaikan diri dan keluarga ini.

Ohya bagaimana kisah kelas sedang live ya ?kelas tidak selalu di buka ya, hanya pas saat live atau absen berlangsung saja kelas dibuka. Oleh karena itu Jika kelas berlangsung, semenit ajah ketinggalan diskusi manjatnya bakal pegel. Karena murid alias para peserta ini super aktif, aktif dalah sharing, diskusi dan saling support.  Kurang semenit jam diskusi, materi atau absen maka peserta harus hati-hati karena grup akan dikunci oleh admin.

Bagaimana jika telat ngumpulin tugas Dan absen semenit saja tetap akan mendapat nilai  nol tanpa ampun dengan alasan apapun tidak akan diterima. Eits...... Saya sudah pernah dapat gegara lupa ngumpulin tugas dan kurang teliti Ada tugas lanjutan dibawahnya.

Sebenarnya apa sih sukanya kalau ikutan kelas ini, karena kami sama-sama ingin mendapatkan iomu secara utuh maka kamipun saling support agar tidak sampai DO (Drop Out)  alias ter eliminasi. Ah betapa saya dapat memetik manfaat luarbiasa bergabung dalam kelas ini. jika mungkin saya melakukan sendiri, tidak ada monitoring dan evaluasi mungkin bakal menegerjakan asal saja. Namun ketika saya bersama dengan orang-orang yang mempunyai semangat dan frekuensi yang sama maka akan menambah keistiqomahan dalam berbenah ini.

Nah jika tiba waktu mengerjakan tugas adalah hal menyenangkan, karena semua-semua ingin rasanya segera diberesi, dirapikan dan dikurangi. Sungguh kami saat itu hanya perlu menghabiskan waktu didepan saja. Karena jika barang sudah tertata rapi, dan sudah sesuai kategori maka sebenarnya kami merasa hemat waktu mengambilnya. Nah termasuk saya dan keluarga. Kalau ada yang nanya dimana ini-itu maka sayapun sampai sekarang dengan mudah menjawab.  

Jadi teringat dengan banyaknya barang di rumah waktu itu, Ya Rabb betapa banyaknya barang dirumah ini. Mulai dari kategori pakaian, komono, buku ataupun barang sentimentil. Tak semua mereka menampati tempatnya dengan baik, kadang ada di sini, harusnya padahal tidak disini, kadang harus disitu padahal harusnya tidak disitu.  Ah betapa banyaknya barang-barang itu selama ini menghuni rumah ini bertahun-tahun namun tak kami sentuh , rawat dan jaga dengan baik. Oleh karena nya barang-barang yang ikut membersamai kami namun kami tak merasa keberadaanya ada, tapi nyatanya ada dirumah kami dan bahkan telah memenuhi rumah kami maka kami harus segera merapikan, menyortir nya. Jika tidak dikawatirkan kan menjadi keribetan kami kelak di yaumil hisab. Mohon doanya ya sobat, agar kami istiqomah.

 

Jumat, 25 September 2020

JUMAT MULIA

 

 

Jumat mulia mari kita istighfar

Memohon ampunan atas segala salah dan dosa

Menyelesaikan masalah yang tak bisa tersolusikan oleh kasat mata

 

Jumat mulia mari kita berdzikir

Mengingat Allah dengan segala kenikmatannya

Mengingat Allah dengan segala kebesaranNya

Memuji kemuliaan dan keberadaanNya

Menjadikan Dia satu-satunya Rabb kita

 

Jumat mulia mari kita banyak berdoa

Meminta keselamatan dunia akhirat kita

Meminta kesehatan serta kekuatan fisik kita

Meminta kejayaan islam nan mulia

Meminta keberkahan hidup kita

 

Jumat mulia mari kita baca al kahfi

Karena ia kan menjadi cahaya

Antara jumat ini dengan jumat yang akan datang

 

Jumat mulia mari kita banyak sedekah

Sebab ia kan menjadi penolong kita

Dari segala marabahaya dan tipu daya

 

Jumat mulia mari kita bersih diri

Kala kuku harus mulai dirapikan

Kala rambut harus segera di potong

Kala bersih rumah harus segera diperhatikan

 

 

 

 

Kamis, 24 September 2020

KISAH 10 MENIT YANG MENENTUKAN HIDUPKU

 



Aku ditakdirkan menjadi ragil dari 3 bersaudara. Mas, mbak dan aku. Dilahirkan disebuah desa di kota kecil dimana banyak peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit ditemukan yaitu Mojokerto. Alhamdulillah Allah takdirkan aku hidup dikeluarga sederhana ini. Kami tidak lebih namun ketika butuh Alhamdulillah Allah cukupkan.

Sepenggal hidup yang tak terlupakan adalah kala Allah takdirkan aku diterima di sekolah terbaik dikota ini, dan menjadi titik tolak aku berhijrah. Proses hijrahku berjalan tentu tidak  mulus begitu saja, tantangan justru dari keluargaku, terutama soal berpakaian. Dahulu masih belum terlalu booming komunitas hijaber dengan segala pernak-pernik hijabnya seperti sekarang ini. kalau ada yang berjilbab lebar, masihlah cukup asing di sekolah maupun dilingkungan rumahku. Namun proses waktu Alhamdulillah, mereka malah berbalik mendukungku berpakaian menutup aurat sempurna.

Semangat hijrah ini semakin membara ketika aku sudah memasuki dunia kampus, meskipun aku tidak diterima diPTN Pilihan 1,2 namun aku masih bisa menikmati tholabul ilmi di PTN pilihan ke 3 ku yaitu sebuah kampus negeri yang mencetakku menjadi seorang guru. Dan saat itu pilihanku jatuh ke jurusan Bahasa Inggris. Meskipun bukan jurusan yang diinginkan keluargaku, tapi aku sudah bersyukur diterima di PTN. Dan oleh karenanya  keluargaku masih menyarankan ikut seleksi masuk PTN lagi tahun depan, yang sesuai dengan keinginan mereka.

Sebenarnya aku sudah berpikir, apa yang Allah takdirkan aku dikampus ini tidak luput dari takdir yang akan mengikutinya. Kalaupun aku ikut seleksi lagi tahun depan dan aku ketrima di PTN baru, pasti Allah juga punya rencana dan takdir lain yang mengikuti. Ya sudahlah, tidak mengapa. Dan mumpung aku disini,  diberi Allah kesempatan belajar di kampus ini maka harus kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aktivitasku tidak hanya belajar namun disini yaitu jurusan Bahasa inggris di fakultas Bahasa aku menambah ilmu dengan ikut organisasi, seperti SKI dan BEM.

Meskipun sejak sekolah dulu sudah belajar organisasi, namun di kampus ini aku merasa baru belajar organisasi. Ada banyak hal yang belum ku ketahui. Saat itu organisasi keislaman menjadi salah satu pilihanku agar aku banyak belajar keislaman lebih jauh lagi, dan tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga orang lain. Disini aku mulai belajar dari menjadi seorang mentee (adik yunior di di organisasi) hingga jadi mentor (senior yang biasanya menjadi penanggung jawab mentee) dan sebagainya. Bahkan lulus dari kampus ini pun aku masih belajar ikut pengajian bersama teman-teman ini.

Ketika aku menjadi seorang mentor sudah barang tentu aku menjadi sosok mbak yang harus bisa mengayomi adik-adik menteeku, meskipun belum bisa jadi contoh yang baik buat mereka. Suatu ketika  aku harus menyampaikan materi mentoring bagaimana cara menjaga diri dan keluarga adalah dengan menikah. Namun saat itu akupun sendiri belum menikah. 

Meskipun belum menikah,  aku sudah berusaha menitip biodata adik - adikku ke ustadz kami yang biasa mengisi pengajian dimasjid kampus atau di jurusan. Sebut saja ustadz A.  Alhamdulillah, beberapa  dari mereka berjodoh.  Saat itu mereka rata-rata sudah lulus atau baru lulus. Hingga kisah menarik saat taaruf sering terjadi ketika aku mendampingi. Karena mereka adik menteeku maka otomatis akupun harus mendampingi proses mereka meskipun usiaku tak terpaut jauh dengan mereka. Namun Alhamdulillah, tidak sendiri ditemani oleh ustadz dan istrinya.

Nah hampir di setiap berangkat taaruf, seperti biasa aku membonceng adik menteeku ini ke rumah seorang ustadz A.  Nah di awal pembukaan taaruf setelah tilawah dsb biasanya ustadz mengenalkan aku juga, dan beliau seringnya guyon “hati-hati awas keliru, mbak nya juga belum menikah”. Gerr…otomatis ketawa kami memecahkan kebekuan suasana taaruf. Dalam proses ini, adik-adik menteeku rata-rata tidak mau bicara, sepertinya karena nerveos. Alhasil kadang aku harus mewakilinya, bahkan kejadian geser-menggeser tempat duduk mereka karena tidak mau pindah posisi pas nadhor pun sering terjadi.

Apa dikira aku tidak nervous meskipun mewakili? iya tapi sedikit, mungkin karena aku belum pada posisi mereka. Hingga suatu ketika di ajang taaruf dimana kami posisi dengan hijab atau pembatas cukup tinggi dan sama sekali tidak bisa melihat satu sama lain, hingga nadzor disepakati dengan cara kami yang akhwat (putri) harus pulang duluan, dengan di atur jalannya. Bahwa yang taaruf adalah yang jalan nomer 2, yang nomer 1 itu yang antar. Lagi-lagi ustadz bilang awas keliru. Duh sedihnya!

Berkali-kali mendampingi taaruf menjadikanku banyak belajar, bahkan menjadi “dewasa” (red.tua) sebelum waktunya. Karena yang biasa mentaarufkan pastinya sudah menikah atau sudah berumur. Sedang aku baru juga lulus kuliah 3 tahun sudah dianggap sesepuh alias (sepuh kali ya) waktu itu. Alhamdulillahnya didampingi keluarga ustadz dan ustdzah didaerah tak jauh dari kampusku. Dan karena seringnya rumah beliau dijadikan tempat taaruf maka mendapat julukan  ”rumah taaruf”

Pengalaman mendampingi taaruf sebelum menikah tak menjadikan aku bisa menguasai diri saat taarufku sendiri. Pertama kali ku terima biodata laki-laki ini, tak langsung membuatku berani langsung membuka datanya. Kebetulan pisan biodatanya berbentuk soft file. Ustadzahku hanya bilang ini laki-laki dari kampus sebrang, dan tentang agama yang dicari ga usah ditanyakan. Padat dan singkat, kata ustadzahku.  Dan belakangan setelah melihat biodatanya, baru ku ingat laki-laki yang mau taaruf ini tidak kukenal sebelumnya aku hanya tahu ia ketua LDK dikampusnya. dan kampusku pernah mengundangnya di acara upgrading anggota organisasi.  Saat itu kebetulan aku sie acaranya, dan aku yang menghubungi itupun lewat sms. Dan hanya itu saja tanpa bla-bla. Saat acara berlangsungpun entah karena kesibukanku sebagai sie acara aku harus meninggalkan forum dan tak melihatnya ataupun bagaimana cara mengisinya. Dan setelah itu tak ada komunikasi lagi.

Setelah membaca biodatanya yang berlembar-lembar kemudian aku mohon petunjuk sama Allah agar diberi jawaban lanjut atau tidaknya. Akhirnya setelah mantap akupun bilang lanjut ke ustadzah. Dan hari taarufpun ditetapkan. Sebelum berangkat taaruf pun aku mencoba menulis apa saja yang bakal aku tanyakan ke laki-laki ini. Tentu saja kali ini aku berangkat sendiri, eh ternyata rasa nervous itu sudah kualami semenjak aku mau berangkat. Lho, berarti adik-adk menteeku dulu juga kayak begitu. Sampai sepanjang jalan kadang mereka bilang “mi aku nanti ngomong apa?” tenang jawabku. Eh ternyata aku sendiri tidak tenang.

Tibalah saat taaruf, setelah dibuka tilawah dan prolog dari ustadz, akhirnya diberikan kepada laki-laki dulu untuk bertanya barangkali ada yang belum jelas dari biodata. Dan laki-laki yang kini menjadi suamiku ini bilang. “Bismillah, selama beberapa pekan ini saya sudah mencari informasi tambahan tentang mb ….dan Alhamdulillah sudah cukup ustadz”. katanya.

Aku pun terkaget dan ketika waktu bicara diberikan kepadaku, notes yang ku pegang dengan tangan sedikit gemetar yang isinya pertanyaan yang mau kutanyakan tadi tidak jadi pula kutanyakan. Pikirku lah dia saja ga tanya, masak deretan pertanyaan ini mau ku tanyakan. Aku terdiam beberapa menit, selain masih gemetar akupun merasa bingung. Dan ustadzah yang menyadari aku ternyata duduk mojok dibalik rak buku ini sedikit menarikku agar geser sedikit biar lebih terlihat. Namun aku menolaknya dengan sopan. Dan akupun menyampaikan tidak ada yang kutanyakan. Sang ustadz bingung juga kaget, lah ini jauh-jauh kesini kok malah ga ada yang ditanyakan. “Masak taaruf ini ga ada 10 menit.” Potong ustadz.

Setelah proses taaruf itupun akhirnya selang waktu 3 bulan kami menikah. Darinya aku banyak belajar, termasuk menumbuhkan passion menulis ini. Terutama saat mendengar kisah beliau menjelajah Indonesia ini semakin memantapkan diri ingin menulis kisahnya, karena kisahku dibanding pengalaman hidupnya tidak ada apa-apanya. 

      Dibalik cita-cita besar ikatan suci ini adalah, kami bisa menjadi bagian penyokong peradapan menuju perbaikan umat. Bersatunya kami karena suatu kebaikan, maka kamipun tak ingin jauh dari kebaikan itu sendiri. Dan kembali tekad kami kencangkan, tak ada yang bisa kami banggakan di yaumil akhir nanti jika kami hidup nafsi-nafsi untuk kesenangan kami pribadi. Maka bermanfaat untuk orang lain dan umat menjadi tujuan utama kami, demi menggapai ridho ilahi. wallohualam.

 

NB: Mohon maaf jika autobiography ini jika ada kesan berlebih atau kurang di hati sobat sekalian.  Semoga Allah jauhkan dari kesombongan, dan berlebihan. Insya Allah ini Cerita nyata.

#ODOP

#One Day One Post

#ODOPCHALLENGE3

Rabu, 23 September 2020

MENGENAL KOLAM SEGARAN SEBAGAI PENINGGALAN SEJARAH KERAJAAN MAJAPAHIT


Negeri ini begitu kaya akan peninggalan sejarah. Sejarah yang cukup turut membesarkan nama negeri ini adalah sejarah tentang kerajaan – kerajaan yang terbentang di hampir seluruh penjuru negeri. Salah satunya adalah Mojokerto. Konon kota yang terkenal dengan makanan khas onde-onde ini juga menjadi salah satu kota yang tak kan terlupakan dalam sejarah. Yaitu tempat berpijaknya kerajaan terbesar di Indonesia yang dinamakan kerajaan Majapahit.

Jika kita belajar sejarah kerajan yang berdiri di Indonesia, bisa dipastikan kita akan mengenal nama agung sang maha patih gajah mada. Konon dalam cerita  tentang pemersatuan Nusantara oleh sang patih ini. bukti- bukti peninggalan kerajaan Majapahit yang terbentang di sudut kota Mojokerto, terutama Kecamatan Trowulan, yang terletak dibagian selatan Kota Mojokerto bersebelahan dengan kabupaten Jombang. Selain Candi, yang banyak dikenal oleh masyarakat luas adalah Kolam Segaran.

Kolam Segaran yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah juga kuliner ramai dikunjungi wisatawan  baik lokal maupun luar daerah atau bahkan wisata asing. Terutama sebelum masa pandemi. Tapi kini di era new normal, kembali padat oleh para wisatawan, dan utamanya wisatawan yang nggowes. Oleh karena itu menjadikan wilayah Trowulan ini, ramai terutama akhir pekan.

Disebut sebagai destinasi wisata sejarah karena jika ingin belajar sejarah Kerajaan Majapahit lengkap maka kita tak bisa memisahkannya dari peninggalan yang namanya kolam segaran ini. Kolam peninggalan Majapahit dengan luas mencapai 6,5 hektare. Panjang Kolam Segaran 375 meter, sedangkan lebarnya 175 meter. Ukuran itu membuktikan bahwa kolam ini cukup luas. Selain itu tembok yang mengelilingi kolam tersusun dari bata merah dengan ketebalan temboknya 1,6 meter dan tingginya 2,88 meter, menambah eksotik kolam Segaran ini.

Menurut informasi sejarah kolam segaran ini merupakan kolam kuno terbesar di Indonesia, yang sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit. Kolam ini baru ditemukan pada tahun 1926, oleh orang Belanda. Tidak terlihat saat itu karena kola mini tertimbun muntahan Gunung Kelud. Untuk selanjutnya dilakukan beberapa kali pemugaran hingga berkali-kali termasuk tahun 1966 dan 1974. Dua sumber air di kolam segaran adalahdi bagian tenggara terdapat saluran air masuk ke kolam dan saluran air keluar di bagian barat laut. Sumber air kolam berasal dari Balong Bunder dan Balong Dowo yang berada di sebelah selatan dan barat daya kolam. Dan pintu masuknya terletak di sebelah barat, dengan bentuk tangga batu kuno. Selain dari dua sumber air tersebut, air dalam Kolam Segaran juga berasal dari air hujan. Namun kemarau yang panjang hampir saja mengeringkan kolam ini ditahun 2019. Kalau kondisi hari ini terakhir update 19 September 2020, masih penuh ada yang ukuran sepaha orang dewasa.

Tidak jauh dari kolam ini terdapat sebuah pusat informasi kerajaan Majapahit, yang juga menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yaitu Museum Majapahit. Museum ini menjadi tempat barang-barang peninggalan Kerajaan Majapahit yang memiliki nilai sejarah tinggi. Sebelum menjelajahi peninggalan Kerajaan Majapahit ada baiknya berkunjung ke museum ini, agar semakin utuh sejarah yang akan kita dapatkan. Membaca dulu sejarahnya, berkunjung ke pusat informasi yang namanya Museum Majapahit ini dan kemudian berjelajah.

Disebut sebagai destinasi wisata kuliner karena Kolam Segaran ini dikelilingi penjual nasi wader yang terkenal anak dan lezat, apalagi dengan sambel terasinya yang menambah lengkap  dan mantap nasi wader ini.  Kalau liburan atau weekend, selain menikmati pemandangan Kolam Segaran, para wisatawan biasanya tidak melupakan wisata kuliner Ikan wader ini. Apalagi mereka yang selesai gowes, lapar kan semakin menambah alasan mereka mampir di sekitar kolam segaran ini. jika sobat sekalian berkunjung saat sabtu atau ahad pagi, bisa dipastikan jalanan kecamatan Trowulan arah wisata sejarah termasuk kolam Segaran dipenuhi wisatawan yang menggunakan sepeda ontel.

Untuk mencapai Kolam Segaran yang terletak di desa Unggahan, kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur ini cukup mudah sobat. Akses kendaraannya pun mudah, ditambah jalanan yang cukup lebar dan mulus, semakin menambah tertariknya wisatawan. Dan juga kurang lebih hanya 500 meter saja dari jalan Nasional Surabaya- Madiun. Silakan menyempatkan ke ke Kolam Segaran ini jika sobat sekalian jika berkunjung ke Mojokerto.

 

Senin, 21 September 2020

HIDAYAH MILIK ALLAH

 

 



Hidayah itu milik Allah

Ia datang karena kita cari

Ia datang karena kita perjuangkan

 

Hidayah itu milik Allah

Ia datang lewat arah tak kita sangka

Ia datang disaat kita lapang ataupun sempit

 

Hidayah itu milik Allah

Ia datang bagikan kesejukan

Ia datang mengajak kita perbaikan

 

Hidayah itu milik Allah

Ia kan pergi jika kita tak menjaganya

Ia akan sirna jika kita tak merengkuhnya

 

Hidayah itu milik Allah

Ia tidak bisa kau biarkan begitu saja tanpa daya upaya

Ia harus kau rawat juga kau genggam keberadaanya

 

Hidayah itu milik Allah

Ia kan menyurut kalau kau tak mengikatnya

Ia kan melemah kalau kau tak memeluknya

 

Hidayah itu milik dan hanya milik Allah

Mari kita jaga

Mari kita semai

Mari kita sirami

Agar ia tidak tercerabut dari diri ini 

Minggu, 20 September 2020

PEMBELAJARAN DARING DARI SUDUT PANDANG ORANGTUA

 

Dampak pandemi dalam dunia pendidikan di alami oleh orang tua siswa. Dan tentu saja perubahan drastis ini tidak semua orang tua siap dan sanggup menghadapinya. Banyak kejutan yang tak mereka siapkan kadang membuat parang orangtua cukup terbebani atau berat menghadapi pembelajaran daring ini. Setiap orang tua mempunyai kesulitan sendiri sendiri, mengingat mereka mungkin tidak pernah membayangkan akan menjadi guru anak-anak disetiap mapel. Berikut beberapa kesulitan yang orang tua hadapi selama daring.

1.    Kesulitan mendampingi ananda belajar semua mapel, ini tidak hanya dihadapi orang tua yang bekerja saja. Orang tua yang notabene di rumah pun juga mengalami kesulitan mendampingi ananda. Karena mereka tidak punya background spesialisasi guru mapel (mata pelajaran), apalagi semua mapel. Bisa dibayangkan puyeng nya mereka, dan yang tidak bisa menghandle diri bisa jadi stress kan melanda hari-hari orang tua.

 

2.    Kesulitan mendampingi ananda belajar dari segi digitalnya. Betapa tidak, setiap sekolah bahkan jika tdak diseragamkan maka berbagai guru mapel akan membuat ruang belajar yang bereda, ada google classroom, quizizz, quipper, edmodo dll. Yang seragam saja kadang merasa kesulitan apalagi yang berebeda. Cara melihat pembelajaran bagaimana, mengumpulkan tugas bagaimana dll. Belum lagi jika anak belum mampu mengedit foto dan gambar maka orangtua harus juga mendampingi mereka. Dan kadang pula harus posting di media sosial seperti youtube misalnya.

 

3.    Kesulitan mendampingi ananda belajar dalam hal waktu. Orangtua yang tidak bekerja juga tidak seluruh waktunya ketika di rumah mampu mendampingi ananda belajar. Karena tergadang urusan domestic rumah pun tak kunjung selesai. Apalagi orangtua yang bekerja dikala anak-anak daring pagi, mereka ditempat kerja. Jika anak harus mengumpulkan tugas atau ulangan sesuai jadwal sekolah pagi. Jika mereka kesusahan mereka tidak bisa bertanya secara langsung karena orangtua yang masih bekerja. Jika harus menunggu orangtua pulang, biasanya orangtua pulang energinya sudah kurang maksimal mendampingi belajar. Alhasil pendampingan belajarpun juga kurang maksimal, juga hasil belajarnya.

 

4.    Kesulitan mendampingi belajar karena kurang komunikasi dengan guru, mungkin ada sebagian orangtua yang ada rasa sungkan bertanya pada guru jika ada kesulitan mendampingi anak-anak mereka. Rasa sungkan itu semakin menambah jarakk antara guru dan orangtua, jika guru tidak proaktif menanyakan kepada siswa dan orangtua selama proses pembelajaran berlangsung.

 

5.    Diantara kesulitan-kesulitan di atas yang paling memilukan dan menyedihkan adalah jika orangtua tidak mampu menyediakan fasilitas memadai ke anak-anak mereka. Karena pembelajaran daring artinya membutuhkan layanan internet yang memadai. Otomatis siswa butuh paket internet atau wifi untuk mendukung proses pembelajaran mereka. Apalagi jika pembelajaran ini menggunakan aplikasi yang menyedot banyak kuota, maka otomatis satu bulan bisa berkali-kali beli paket data. Nah, bagi orangtua yang tidak mampu maka ini menjadi kesulitan atau beban besar buat mereka. Karena orangtua anak-anak ini latar belakang ekonominya  berbeda maka kemampuan membelinya juga berbeda.

 

Demikian bebeberapa sudut pandang pembelajaran daring ini dari sudut pandang orang tua. Semoga dari kesulitan-kesulitan yang ada jalan keluar membentang luas, agar ananda dan orang tua juga para guru mampu memaksimalkan belajar dengan daring ini.

Meskipun kita tahu bahwa orangtua khususnya ibu adalah madrasah pertama orangtua, namun tak semua orang tua mempunyai kapasaitas mendidik ananda untuk semua bidang pelajaran, apalagi jika jenjang sekolah ananda makin tinggi.

 

BELAJAR SURVIVE DARI KISAH BERCOCOK TANAM


 

Teringat sebuah kisah dua orang yang tetanggaan sebut saja bapak A dan bapak B. Masa pensiun,  mereka ingin mereka isi dengan sesuatu yang menghibur mereka menuju hari tua yaitu bercocok tanam.  Ternyata waktu berjalan Bapak A dan bapak B ini mempunyai mindset yang berbeda soal bercocok tanam. Bapak A merawat tanamannya penuh maksimal, memberinya pupuk, menyiraminya, menyiangi rumput liar serta perlakuan istimewa lainnya. Termasuk pemilihan dan pengolahan lahan yang akan ditanami. Sedangkan bapak B, memilih bercocok tanam dengan lahan yang jauh dari rumah, terkesan dibiarkan, sesekali saja ia kunjungi dan ia siram.

Time flies, tanaman bapak A menjadi tanaman yang subur dan menyenangkan dan indah dipandang. Sedangkan tanaman bapak B, kurang subur dan kurang segar. Hari berganti, suatu ketika ada badai besar menyapa kota itu termasuk tanaman bapak A dan B tadi. Setelah badai selesai bapak A dan bapak B pun segera melihat tanaman mereka. Ternyata apa yang terjadi? Betapa kagetnya, bapak A tanamannya rusak porak poranda dihempas badai, sedangkan tanaman bapak B hanya sedikit saja yang rusak. Setelah di teliti, ternyata tanaman bapak A rusak karena akar nya kurang kuat, ia terbiasa disirami, dipelihara dengan baik, sehingga akar kurang ada usaha menerobos tanah mencari air, karena selama ini ia mudah mendapat makanannnya. Sedangkan tanaman bapak B sedikit yang rusak, dibalik kekurangseringnya bapak B menyirami, membuat akar tanaman bapak B mencari jalan, menembus terjalnya tanah mencari air agar mereka bisa hidup.

Dari sini kisah ini di hubungkan bagaimana kita mendidik anak menjadi pribadi yang survive. ketika anak dicukupi semua kebutuhannya dengan mudah, hari ini minta A kita langsung belikan tanpa ia harus berjuang, besok minta B, langsung saja kita belikan tanpa pula ia harus mengerjakan sesuatu yang yang menjadi challenge untuk dia. Apalagi ditambah bumbu rengekan dan tangisan disetiap permintaan. Maka ini akan menjadi password buat mereka untuk minta sesuatu berikutnya. Anak-anak tersebut tidak tertantang  sama sekali dengan sebuah perjuangan.

Apalagi jika ada orang lain ditengah-tengah perjuangan kita mendidik. Misal kita tidak memperbolehkan dia bermain gadjet sebelum masa liburan sabtu-ahad, eh ada kakek nenek yang berkunjung kerumah kita, seperti yang kita tahu kakek nenek itu sayangnya ke cucu melebihi apapaun, karena tidak tega melihat anak-anak menangis. Akhirnya diberikannlah gadjed untuk bermain mereka.  Nah,  ini akan menjadi ujian kesabaran kita mendidik.

Sedangkan jika kita memberi sesuatu kepada anak, sewajarnya, apalagi ketika ia dapat sesuatu itu dengan memperjuangkannya dulu maka ini akan menjadi kebiasaan untuk mereka, bahwa untuk memiliki sesuatu harus berjuang dulu. Dan ini akan diingat oleh mereka, password nya jika “aku ingin sesuatu aku harus usaha”. Misal jika anak ingin mendapatkan sepeda baru, harus hafal 1 juz Alquran, ingin sepatu baru harus mendapat juara 1 dsb.

Mari sobat sekalian kita sama-sama belajar, mengajari anak survive adalah sebuah keharusan. Di kehidupan mendatang mereka akan ketemu dengan tantangan yang maha dahsyat, yang tidak sama dengan kita. Dan kitapun tidak seterusnya membersamai mereka. Antara tega dan tidak tega, demi kehidupan yang lebih baik untuk mereka, kita harus tega. Kita tarik ulur bak layangan, kapan ia harus kita tarik untuk diluruskan, kapan harus kita ulur talinya agar mereka semakin meninggi. Mari kita didik anak-anak kita sesuai zamannya, karena zaman ini tantangannya luar biasa maka kita biasakan mereka tertantang pula dalam menjalani hidup.

Jadi ingat sebuah nasehat pakar parenting tentang mendidik anak-anak kita ini, kesusahan kita hari ini mendidik anak maka akan memudahkan kita kelak dimasa tua. Kemudahan kita mendidik anak, karena agar ia diam kita turuti saja apa maunya, maka akan menyusahkan kita kelak dimasa tua kita. Wallohua`lam

Sabtu, 19 September 2020

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 2 “ MELIPAT ALA KONMARI"



Sekitar setahun lalu, sliweran baca di media social entah facebook atau instragam, mengetahui model melipat ala konmari, dengan hanya dari melihat hasilnya rapi penulis pun ikut langsung praktik. Dan yang menjadi percobaan adalah bajunya para bocah. Baju dewasa belum berani, karena baju kawatir lecek karena dipakai kerja  Sedangkan baju anak-anak pun juga yang dicoba melipat ala konmari ini, yang baju non-seragam. Etapi, ternyata, percobaan saya salah, belakangan pas ikut kelas online akhirnya tahu  ilmu yang penulis terapkan itu salah, dan bahkan tak terarah, dipraktekkan ala-ala dan asal melipatnya.

Hampir setahun penulis bertahan dengan melipat yang ala-ala konmari ini,  tapi masih bertahan hanya pada baju si kakak, bahkan sampai sebelum ketemu dengan kelas online berbenah sadis ini #KBS7 ... karena masih ala-ala alhasil ketika di pakai ya masih lecek. Itulah pentingnya ilmu sebelum amal.  Sedang kan baju si sholih gak tahan lama. Si doi ambilnya sembarangan jadi sisanya kadang berantakan dan tidak rapi lagi. Bahkan sampai sekarang sih, tapi penulis tetap saja melipat ala konmari, dan sambil terus mengajak doi belajar mengambil dengan rapi.

Terus bagaimana baju kami yang dewasa? Eit.. Belum berani coba. Sudah ciut duluan ini niatnya. Juga penulis kira awalnya melipat konmari hanya cocok untuk anak-anak saja. Dan penulis pun berani melipat model konmari hanya kalau mudik saja. Nah itu pun dikaretin, padahal konmari yang benar dia bisa berdiri tanpa dikaretin dan tanpa sandaran ðŸ˜…. Duh jadi malu. Nah ini salah satu berkah hikmah dibalik musibah pandemi. Akhirnya saya memantapkan diri mengikuti kelas berbenah sadis 7 KBS #7

Roll coaster kelas online ini luarbiasa, kalau tugasnya menukik semakin tertantang, kalau tugasnya landai saatnya refresh diri. termasuk dalam hal melipat ala konmari ini. Meski belum rapi-rapi amat, tapi yang paling penulis syukuri adalah berkurangnya baju yang ada dirumah.  Kami sekeluarga terutama penulis, merasa tertampar masih banyak baju kami sekeluarga yang tak terpakai disimpan dirumah.😩 Alloh ya Rabb. Jadi teringat nasehat teh Rika sang mentor. 

Jangan sampai banyak nya baju kita menjadikan hisab kita lama.

MakJleb. Akhirnya penulispun berjibaku mengurangi secara drastis perbajuan dirumah. Terutama baju anak-anak yang sudah kekecilan. Dulu penulis pikir bahwa baju anak-anak disimpan, entar buat adiknya, sayang-sayang dalam benak penulis kalau dikasihkan orang, barangkali masih dibutuhkn dikemudian hari. Ternyata malah kebalik mindset ini, justru dikasihkan Insya Allah kan Allah ganti dan cukupkan dengan yang lebih baik. Jadi dikelas ini selain diberi materi untuk di praktikkan juga diberi materi dan nasehat yang semakin menguatkan ruh dan jiwa kami para peserta, tak hanya merapikan namun juga harus bisa melepaskan barang-barang yang ada dirumah. Karena sesuangguhnya 

Merapikan tak sama dengan melepaskan.

Tentu saja sobat sekalian, bagi penulis terutama semangat dalam kebaikan itu butuh komunitas, butuh teman - teman yang saling menguatkan, mendukung. Dan benar di kelas ini kita benar-benar penulis temukan teman yang saling mendukung,  saling berbagi ilmu tentang praktik berbenahnya. Hal penting yang bisa penulis ambil ilmunya dari kelas berbenah ini adalah bahwa dengan merapikan baju memakai  ilmu sebenarnya memudahkan kita, menghemat waktu kita. Dan apalagi jika  barang kita tidak terlalu banyak jumlahnya.

Selain dari diri sendiri, komunitas yang saling menyemangati, ilmu juga yang paling pentng adalah doa kepada Allah agar diberikan ketatagan atau keikhlasan dalam hati dengan mudah melepaskan titipannya adalah yang paling penting. Makanya salah satu ilmu yang penulis dapat adalah jika berbenah, ta`awudz dulu agar dijauhkan dari syaitan yang membisiki diri kita agar kita mengeman barang tersebut, dan sebisa mungkin dalam satu waktu menyortirnya. Agar tidak ada ruang dalam hati dan pikiran kita untuk bilang "ini saya simpan barangkali saya butuhkan". Padahal ternyata tidak dipakai akhirnya, dan menumpuk. Ohya dalam berbenah ini pun sebaiknya kita harus dapat dukungan keluarga ya, semangat kita harus juga mengalir ke mereka. Dan bahkan kalau bisa mereka ikut membantu kita. Alahamdulillah anak-anak juga ikutan senang membantu. Suami juga mendukung, mengizinkan bajunya juga di sortir. Tapi, saking sadisnya penulis menyortir sampai ada baju kesayangannya yang katut penulis lepaskan. "Ups....si doi bilang wah bunda kurang teliti sih".  Aduh maafkan istrimu bapak.

Ohya, satu lagi tentang metode konmari adalah jika kita menyortir barang, maka tanyakan pada diri sendiri. Barang itu membuat bahagia atau tidak. Jika iya maka simpan, jika tidak maka buang atau lepaskan (bahasa buang boleh dibuang beneran atau di sedekahkan). Dan dalam metode ini pula, tidak merekomendasikan adanya gudang. Alhasil penulispun ubrak-abrik gudang kecil dibawah tangga, hasilnya "plong" dan lega. Namun dari itu semua yang paling penulis jadikan penyemangat atau booster agar tetap berbenah sampai kapanpun adalah tentang hisab😩😩😩, kalau ada baju baru yang masuk, maka harus ada yang dikeluarkan. Hiks tantangan penulis yang masih sampai saat ini dan masih susah adalahh seragam kantor, kurang membuat bahagia aslinya tapi wajib simpan untuk kepentingan kerja.



Mohon doanya ya sobat sekalian agar penulis dan keluarga istiqomah. kalau dibanding dengan peserta lain kami masih jauh, bahkan batch sebelumnya ada yang menyisakan bajunya sendiri 7 helai saja. ups mungkin dari sini ada pro dan kontra ya. tapi silakan ambil hikmahnya.

NB: foto lipatan baju yg belum terlalu rapi itu dikira teman saya jualan batik😅

bagi yang penasaran ikut kelasnya silakan tilik fb teh Rika Subana, dan belakangan kelas berbenah sadis ditambah namanya menjadi kelas berbenah sadis elementary #KBSE.