Senin, 15 Februari 2016

IDOLA SEPANJANG ZAMAN
“Siapakah tokoh idola kalian?” Pertanyaan seorang guru ditengah-tengah pelajaran si sebuah sekolah.  Salah seorang siswa mengacungkan tangan sambil menjawab: Justin bieber  Pak!”, Siswa lain menjawab:” Lady Gaga, Pak!”,    idolaku “Aliando!”, kalau saya “Cherrybelle, Pak!” dan terakhir salah seorang siswa nyeletuk sambil menjawab kalau idola saya mah itu tuh si Rafi Ahmad!”.
Sekilas  kisah di atas, memberikan gambaran kepada kita bahwa kebanyakan yang dijadikan tokoh idola generasi muda kita sekarang adalah dari kalangan artis dan selebritis. Sehingga tak heran kalau yang digugu dan ditiru itu bukan tokoh yang berprestasi di bidangnya, agamis, bagus perangainya, dan sederatan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan kita tahu  bagaimana perangai para artis,  baik itu gaya kehidupannya (lifestyle), cara bicara dan cara berpakaiannya, atau kehidupan lengkapnya sebagian besar (tidak semua) tidak layak dijadikan teladan . Dan yang lebih memprihatinkan sebagian besar yang mengidolakan itu adalah generasi muslim  kita.
Oleh karena itu,  ini menjadi tanggung jawab kita semua mendampingi dan membina mereka agar mereka kembali kejalan yyang dicontohkan oleh rasululloh, siapakah sebenarnya yang patut dijadikan tokoh idola. Karena sejatinya jika mereka para generasi muslim kita adalah calon para pemimpin kita kelak. Gimana negeri ini menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur jika calon pemimpin nya mengidolakan dan meniru tokoh-tokoh yang buruk perangainya dan jauh dari nilai-nilai keislaman.
Maka sebagai generasi muslim sudah sepantasnya kita memilih tokoh idola yang layak dijadikan idola. Dan orang yang ideal dan pantas untuk dijadikan tokoh idola dan panutan  kita sebagai generasi muda Muslim adalah Nabiyulloh Besar Rasulullah Saw. (Nabi Muhammad Saw.).
Allah Swt. Berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Ahjab ayat 21:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu … “
Pada ayat tersebut Allah Swt. memerintahkan kepada kita sebagai Muslim untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai idola atau contoh panutan yang baik (uswatun hasanah) dalam kehidupan kita. Pribadi Rasulullah sungguh adalah pribadi yang baik dan sempurna, maka sudah sepantasnyalah Rasulullah dijadikan tokoh idola kita. Ajaran beliau dalam bentuk kehidupannya sangat cocok ditiru oleh kaum muda. Bahkan mencontoh atau meniru serta mengamalkannya akan berbuah pahala. Bahkan ketika Aisyah istri Rasululloh ditanya bagaimana akhlak Beliau? Aisyah menjawab” Akhlak Rasululloh adalah seperti Alquran” (HR. Muslim).
Rosululloh dalam mengenangmu
Kami susuri lembaran sirahmu(Sejarah)
Pahit getir perjuanganmu
Membawa cahaya kebenaran
(Nasyid by Hijazz)

Dari sebagian lyric nasyid tentang rasululloh tersebut kita dapat mengambil ibrah  (pelajaran) bahwa kehidupan rasululloh penuh dengan perjuangan semenjak beliau masih kecil. Inilah sepenggal kisah beliau:
 “Rasulullah Saw. sejak kecil sudah menjadi yatim piatu, bahkan Rasulullah tidak pernah melihat wajah ayahnya, karena ayahnya (Abdullah) sudah meninggal ketika Rasulullah masih dalam kandungan ibunya (Siti Aminah). Dan Rasulullah ketika dalam asuhan kakeknya (Abdul Muthalib) dan selanjutnya diasuh oleh pamannya (Abu Thalib) sudah biasa hidup mandiri dengan mengembala kambing, dan pada   usia remaja sudah menjadi pedagang. Hal ini merupakan pelajaran dari Rasulullah Saw.  kepada kita untuk tabah, sabar, tegar, dan tidak cengeng dalam menghadapi cobaan hidup, dan Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membiasakan sejak kecil hidup mandiri (tidak menjadi beban orang lain).”
Akhlak baik beliau juga sudah terkenal semasa beliau masih muda belia, Rasul tidak pernah berbohong, berzina, berjudi, mabuk-mabukan, atau perbuatan maksiat lainnya, padahal masyarakat Arab pada waktu itu hidup dalam kemaksiatan, tetapi Rasul tidak pernah terpengaruh. Sehingga karena pribadinya yang menawan baik bagi kawan maupun lawan, Rasulullah diberi gelar Al-Amin (Orang yang terpercaya) gelar yang tidak diberikan masyarakat Arab sebelumnya dan sesudahnya. Gelar itu khusus bagi Nabi Muhammad saw.”
Hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi kita terutama sebagai generasi muda muslim, untuk memiliki mental dan keimanan yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan prilaku jelek yang ada disekitar. Hari –hari ini televisi menjadi salah satu media paling berpengarauh bagi kalangan muda kita. Sungguh Tayangan televisi (tontonan)  banyak yang dijadikan tuntunan. Makanya ...ayuk kita serap yang baik dan buang yang jelek.

Membaca sepenggal kisah beliau di atas lantas apa yang kita ragukan dari pesona akhlak nya?? Harusnya tidak ada sama sekali keraguan. Bahkan di akhir hayatnya beliau masih memperjuangkan umatnya agar kelak bisa berdampingan di surga Nya. Dan semoga kita adalah bagian dari umatnya yang mendapatkan syafaatnya. Biidznillah in sya alloh. Wallohu a’lam.

hijrah dan perubahan

HIJRAH ADALAH PERUBAHAN
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Betapa singkatnya proses perputaran, pergiliran dan perguliran waktu. Serasa baru kemarin kita berada di tahun baru ternyata kini kita tiba pada awal tahun baru  Hijriah lagi.
Hijrah adalah sebuah keniscayaan. Karena didalamnya mengandung sebuah dinamika. Dan Islam menghendaki umatnya untuk hidup dinamis, agar mereka mampu mengantisipasi segala bentuk perubahan yang terjadi disekitarnya. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan dan berpindah. Yaitu perpindahan dan perubahan yang dilakukan dengan meninggalkan suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu kondisi kepada kondisi lain yang lebih baik.
Bagaimana bentuk hijrah zaman rosululloh dan implementasi untuk zaman sekarang?
Bentuk hijrah yang pertama adalah hijrah makaniyah atau hijrah tempat dan ruang. Hijrah jenis ini telah dilakukan kaum muhajirin yaitu penduduk Makkah generasi pertama umat ini, sebagai tuntutan untuk melakukan perubahan disamping untuk menyelamatkan aqidah dan ‘ibadah mereka dari penindasan orang-orang kafir dan musyrik. Sesudah kota Makkah menjadi bagian negri Islam maka hijrah jenis ini untuk muslimin penduduk Makkah dihentikan. Ia tetap berlaku untuk kaum muslimin di tempat dan waktu sesuai dengan kebutuhan dan tingkat urgensinya. Bagaimana dengan hijrah maknawiyah zaman sekarang ini? apakah masih diperlukan?. Yup...Manakala seorang muslim yang baik qodarulloh terlahir di sebuah tempat dengan kondisi masyarakat yang minoritas islam, atau islam namun akhlaknya masih jauh dari nilai-nilai islam. Maka pilihannya adalah jikalau mereka belum mampu mengajak sekitarnya kembali kenilai-nilai islam dan kawatir akan leburnya dia ke kubang kemaksiatan dan kekufuran maka sebaiknya hijrah menjadi alternatif untuk menyelamatkan akidah dan akhlak keluarganya.
Bentuk yang kedua adalah hijrah ma’nawiah atau hijrah sisi intelektual, spiritual, sikap dan prilaku. Hijrah sebagai bukti komitmen seseorang kepada Islam yang tidak mengenal waktu dan ruang. Karena islam sarat dengan perjuangan, maka hijrahpun perlu diperjuangkan dengan landasan niat yang kuat. Mulai dengan perubahan dan penataan wawasan pemikiran seorang muslim, kejiwaan sampai moralnya menuju terbentuknya "syakhshiyah" atau keperibadian Islami. Oleh karena itu tidak heran jika setelah hijrah banyak sekali para sahabat yang memiliki kepribadian unggul nan mengagumkan. Perubahan mindset benar-benar terjadi secara totalitas pada diri seluruh umat Islam kala itu.

Kata hijrah kini sudah mulai sering kita dengarkan tidak hanya ketika momen pergantian tahun hijriah saja, misalnya hijrah seorang artis. Yang mana sebelumnya dia berkubang di kehidupan hingar bingar, namun setelah mendapatkan hidayah akhirnya meminimalisir atau berhenti sama sekali dari dunia artis dengan meniti jalan islam secara kaafah.
Hijrah juga sering kita dengar manakala seorang pecandu narkoba bangkit dari keterpurukan candunya menuju sebuah perjuangan untuk meninggalkannya. Adapula hijrah juga sering menjadi pilihan kata yang tepat ketika seseorang meninggalkan perilaku buruk kemudian beralih menuju perjuangan kembali ke nilai-nilai islam. Hijrah juga sering dipakai seseorang yang sebelumnya berkubang dalam pergaulan yang bebas menuju pergaulan yang disyaratkan dalam syariat islam, misal tidak lagi pacaran dan menjauhi kehidupan bebas.
Bagi seorang pemuda, momentum hijrah tak boleh dilewatkan begitu saja. Bukan pada maknanya peringatan pergantian tahunnya saja, yang meskipun riuh ramainya masih kalah semarak dengan tahun baru Masehi. Tapi seharusnya pergantian tahun baru Islam menjadi sebuah momen muhasabah bagi kita sebagai umat muslim karena pada tahun tersebut tersimpan makna historis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Sebuah peristiwa “hijrah” yang membawa perubahan bagi seluruh tatanan kehidupan masyarakat jahilliyah pada saat itu. Karena yang dikawatirkan adalah jika tidak ada perubahan ini maka kita akan merugi sebagaimana dalam firman Allah berfirman : “Demi massa, merugilah orang-orang yang melalaikan waktu” (QS.Al-‘Asr :1-2).
DR. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya, Al-Waktu fii Hayaatil Muslim mengatakan, bila orang melewati suatu hari dalam hidupnya tanpa ada satu hak yang ia tuntaskan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau kemuliaan yang ia wariskan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya dirinya sendiri. Ketidakmampuan kita memahami sekaligus mewujudkan makna terpenting Hijrah dalam realitas kehidupan saat ini hanya akan menjadikan datangnya Tahun Baru Hijrah tidak memberikan makna apa-apa bagi kita, selain rutinitas pergantian tahun. Ini tentu tidak kita inginkan.

Oleh karena itu sobat muda sekalian momentum hijrah tahun ini hendaknya benar-benar kita maknai sebagai media perubahan diri yang maksimal dalam penyempurnaan iman dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sebab, jika tidak, boleh jadi kita merasa biasa saja dalam hidup ini. Seolah telah menjadi baik, padahal belum. Sekali lagi Momentum hijrah ini adalah media yang tepat untuk mendata secara mendetail siapa sebenarnya diri kita. Apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini, apakah yang paling sering kita pikirkan dalam hidup ini, dan apa yang sebenarnya ingin kita raih dalam kehidupan dunia ini. dan agar hijrah ini memang benar-benar sebuah perubahan. wallohu alam bisshowab.

generasi muda yang merdeka

GENERASI MUDA YANG  MERDEKA
Merdeka!!!!. 17 Agustus merupakan tonggak sejarah penting untuk negara indonesia, bebas dari penjajahan. Kini usia kemerdekaan itu sudah mencapai 70 tahun, ibarat manusia usia ini adalah usia yang cukup matang bahkan bisa dibilang usia senja.
Sejarah mencatat bahwa peran generasi muda sebagai pilar dan motor perjuangan demi membebaskan negeri ini begitu luar biasa.
 Bagaimana sih perannya? Dulu pemuda berperan aktif sebagai ujung tombak untuk membebaskan Bangsa Indonesia  dari belenggu para penjajah dan menjadikannya sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat. Di mulai dari Budi Utomo tahun 1908, Sumpah pemuda tahun 1928, dan Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945. Nah, Begitu juga di era setelah kemerdekaan seperti sekarang ini peran itu masih sangat diperlukan, pemuda khususnya pelajar dan mahasiswa mempunyai fungsi dan peran yang strategis  dalam hal pembaharuan dan pembangunan bangsa.
Bagaimana caranya? Untuk meningkatkan potensi dan peran para pemuda  di perlukan kesadaran diri dari individu itu sendiri, salah satunya menunjukkan semangat dan sikap bela negara dimana tidak  dilakukan melalui peperangan melawan penjajah, tapi peperangan itu lebih pada kesiapan pemuda melawan perilaku-perilaku amoral yang tdak sesuai dengan kerangka ideologis dan konstitusional bangsa indonesia dalam mengisi kemerdekaan indonesia. Banyak kegiatan atau kegiatan ekstrakurikuler bagi pelajar dan mahasiswa yang menumbuhkan sikap bela negara ini yaitu ekstra pramuka, paskib, PMR dsb. Sedangkan mahasiswa juga dapat mengikuti UKM Menwa, pecinta Alam dsb.

Mari kita sejenak melihat kondisi bangsa kita sekarang, ada beberapa indikator bahwa sebagian kalangan pemuda di negeri ini telah mengalami penurunan kesadaran akan pentingnya bela Negara. Hal tersebut bisa kita lihat dari kebiasaan pemuda yang lebih bangga dengan budaya atau simbol-simbol bangsa lain dan tidak bangga dengan budaya bangsa sendiri. Seperti memakai produk-produk fashion, kosmetik, bahkan makanan pun bangga jika itu punya negara lain. Wah!. Ada juga generasi muda saat ini lebih cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya bangsa atau adat ketimuran dengan memamerkan ciri  westernisasi karena mereka salh mengartikan makna dari kemerdekaan (re. Kebebasan) itu sendiri seperti perilaku nge-drug, clubbing, free-sex, LGBT dan lain sebagainya dan kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran sosial dan perhatian kepada sesama yang ditunjukkan dengan semakin individualisnya pemuda itu sendiri di tengah-tengah masyarakat. Padahal banyak lho persoalan-persoalan masyarakat yang membutuhkan peranan kita sebagai generasi muda untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik. Atau paling tidak kita tidak ikut menambahi daftar panjang permasalahn negeri ini.
Dahulu Peringatan hari kemerdekaan cukup meriah dan seru. Peringatan 17 an begitu ditandai dengan adanya menghias rumah dengan pernak-pernik 17 an, lomba-lomba seperti: lomba kelereng, makan krupuk, panjat pinang, dan lain sebagainya dan ini hampir disetiap daerah di negeri ini menyelenggarakannya. Seru ya!  Paling tidak mengingatkan anak-anak zaman itu kalau ada lomba berarti sedang peringatan 17 an. Nah, Bagaimana dengan sekarang, wah sepertinya sudah jarang kita temui. Meskipun kita tahu bahwa makna kemerdekaan bukan sekedar euforia saja, bukan pula momen buat para pemuda untuk mengekspresikan jiwa nya sebebas-bebasnya tanpa dibarengi tanggung jawab. tapi merupakan momen yang tepat bagi kita semua untuk mengingat jasa-jasa para pahlawan yang telah mempertaruhkan jiwa dan raga mereka demi merebut kemerdekaan Indonesia kembali. Keberanian para pahlawan harus dapat dijadikan inspirasi bagi generasi penerus bangsa yaitu pemuda. “Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”, seperti perkataan yang disampaikan founding father presiden pertama Indonesia. Sebagai generasi muda penerus bangsa kita berkewajiban untuk menjaga bangsa kita supaya tidak dijajah lagi oleh penjajah. Bagaimana caranya?  Tentu para generasi muda tidak perlu berperang mempertaruhkan nyawa seperti pahlawan terdahulu melawan penjajah tapi kini keberanian dan semangat para pahlawanlah yang patut kita contoh untuk membangun dan menjaga bangsa kita dengan cara mengukir prestasi gemilang yang membanggakan negeri ini dan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.
Dirgahayu Rebuplik Indonesia. Semoga perjalanan panjangmu semakin memiliki makna bagi kemajuan negeri tercinta ini dan semakin berjaya dengan peran para pemuda yang senantiasa berkarya. Dan kami para pemuda pun dapat menjadi generasi muda yag merdeka, yang bisa meneruskan cita-cita pahlawan dan membawa negeri ini menjadi negeri bermartabat dengan bekal prestasi gemilang diliputi kreativitas dan inovasi tinggi, serta kritis, idealis, progresif, dan dinamis. Wallohua’lam bishowab.
Bunda Nisa, Guru, penulis
aktif di LPP Generasi Bangsa

www.goresanpenakebaikan.blogspot.com

semangat muda keluarga ibrahim

SEMANGAT MUDA KELUARGA IBRAHIM

Setiap kali memasuki hari Raya Idhul Adha, kita tidak pernah lupa kisah manusia agung yang diutus oleh Alloh SWT untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarganya, Hajar dan Ismail as. Keagungan pribadinya membuat kita, bahkan Nabi Muhammad Saw, mengambil keteladanan darinya. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”.  (QS Al-Mumtahanah: 4).
Keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihi salam adalah keluarga fenomenal, sejarah menjadi saksi karya-karya besar mereka. Bangunan Ka’bah yang saat ini berdiri kokoh merupakan hasil karya Nabi Ibrahim as dan putranya, sumur zam zam yang begitu mendunia awalnya berasal dari hasil kerja keras Siti Hajar mencari air untuk Nabi Ismail yang masih bayi. Bukan hanya itu, bahkan seluruh rangkaian manasik haji merupakan representasi dari gerak dinamis Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menjalankan perintah Allah SWT. Lontar jumrah merupakan visualisasi dari upaya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk mengusir syaithan yang menggoda mereka, sai antara safa dan marwa merupakan representasi dari usaha Siti Hajar untuk mencari air bagi putranya. Pertanyaannya adalah mengapa harus dari keluarga Nabi Ibrahim? Apa rahasia kehebatan keluarga ini sehingga Allah SWT mengabadikan kisah mereka bukan hanya dalam al qur’an tapi juga melalui perayaan salah satu diantara 2 hari besar Islam.
Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim beserta keluarga dan dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di Tanah Suci, Makkah al-Mukarramah, paling tidak ada ada empat pelajaran yang sangat penting.

Pertama, Ibrahim Pemuda yang Sholih

Sejak Usia dini Ibrahim as sudah menunjuukan kesholihannya, ketika beranjak semakin tua, kerinduannya pada generasi pelanjut perjuangan menjadi semakin besar dan iapun terus berdoa agar Allah SWT menganugerahkan kepadanya keturunan yang shalih. Belajar dari profil kehidupan Nabi Ibrahim as membuat kita harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap semangat ketekunan yang kesinambungan generasi shalih yang dapat memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kebenaran. Bagaimana dengan kondisi pemuda saat ini? Kasus-kasus perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, perkelahian, pencurian, narkoba, Aborsi hingga AIDS, dan berbagai kasus kriminal lainnya adalah kasus-kasus yang banyak dilakukan oleh generasi muda. Sungguh memprihatinkan bukan?
Untuk bisa melahirkan anak yang shalih, tentu harus dimulai dari pemilihan pasangan. Bagaimana bisa mendapatkan keturunan sholih jika dalam proses pernikahan suci sudah ternoda dulu dengan hal-hal berbau kemaksiatan? Naudzubillah . Selain itu mendidik anak sesuai dengan metode yang dicontohkan para Nabi dan slafussholih berikut keteladanan yang baik adalah salah satu membentuk pribadi sholih generasi mendatang.

Kedua, Visioner
Nabi  Ibrahim sangat visioner dalam memandang sebuah cita-cita perjuangan menegakkan Tauhid.  Beliau  dan keluarga terus menerus berdo’a untuk mendapatkan keturunan yang sholeh. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena beliau punya batas umur, maka keinginan keturunan adalah bukan pewarisan harta tapi pewarisan kalimat tauhid yang harus disampaikan kepada manusia. Sejarah pun menjadi saksi bahwa berabad- abad kemudian, Allah SWT memilih  Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna risalah, tepat 61 generasi dibawah garis keturunan Ismail.

Ketiga, selalu istiqamah.
Sosok Nabi Ibrahim as dan keluarganya memberikan pelajaran kepada kita semua akan keharusan mempertahankan dan memperkokoh jati diri sebagai seorang pemuda yang beriman yang selalu berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar, apapun tantangan, keadaan dan bagaimanapun situasi serta kondisinya. Kondisi kekinian tentunya berbeda dengan kondisi Nabi Ibrahim dulu Dalam sejarah beliau menghancurkan berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat di sekitarnya, saat itu Ibrahim adalah seorang Pemuda, hal ini tercermin dalam firman Allah SWT yang menceritakan soal ini:

“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim”. (QS Al-Anbiya’: 58-60).
Kepribadian nan kokoh ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia masih muda belia saja tapi pada saat peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. Maka Ibrahim pun melaksanakan perintah Allah SWT yang terasa lebih berat dari sekedar menghancurkan berhala-berhala di masa mudanya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua.
Dalam kehidupan kita sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak istiqomah sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik.

Keempat, waspada Oleh Hasutan syaitan.
Dari sekian banyak hikmah dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari ibadah haji yang dilaksanakan oleh kaum muslimin adalah terkait dengan mengusir syetan. Hal ini karena ketika manusia ingin menjadi muslim yang sejati, kendala besar yang akan dihadapinya adalah godaan-godaan syaitan. Karena itu, Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.  (QS Al-Baqarah: 208)
Ibrahim, Hajar dan Ismail berusaha mengusir syaitan melempari dengan batu yang kemudian dilambangkan dalam ibadah haji dengan melontar jumroh. Sebagai generasi muda kewaspadaan dan perlawanan kita terhadap godaan syaitan harus selalu membara. Bagaimana tidak kehidupan saat ini begitu banyak aktivitas generasi muda kita yang sangat mudah dijerumuskan oleh syetan, berkembangnya teknologi masa kini dengan segala pernak pernik media pendukungnya menjadi semakin mudah untuk mengakses pertemanan yang tidak baik berikut juga pornografi dsb.
 Oleh karena itu generasi Berkualitas akan lahir dari keluarga yang berkualitas
Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa Keluarga Nabi Ibrahim ‘Alayhi Salam adalah keluarga teladan yang layak kita jadikan panutan, potret keluarga yang segala aktivitasnya selalu berlandaskan pada ketaatan pada perintah.
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, begitu pula nabi Ya’qub: ‘Wahai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kamu agama (Islam) ini, maka janganlah kalian mati kecuali kalian benar-benar menjadi orang Islam”. (Al-Baqarah: 132).
Semoga kita mampu meneadaninya.
Wallohu a’lam bishowab