Jumat, 20 Juli 2018

MENGENAL DAN MENGOPTIMALKAN 3 POTENSI DASAR MANUSIA



Manusia adalah salah satu makhluk  Alloh yang luar biasa. Alloh memberi manusia bentuk dan potensi yang sebaik-baiknya. Lebih baik ketimbang makhluk Allah lainnya. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Sebagai balasannya Sudah selayaknya manusia mensyukuri atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya
Dalam kehidupan, setiap manusia itu memiliki potensi dasar dalam dirinya, Dan potensi ini merupakan hal penting bagi keberlangsungan hidupnya. Namun setiap manusia berbeda dalam memanfaatkannya. Berikut 3 potensi dasar manusia.

1.      Potensi fisik.

Setiap manusia Alloh beri sebaik-baik bentuk atau fisik. Namun, kita, Manusia memiliki karya dan  produktifitas yang berbeda karena masing-masing kita beda dalam memanajemnnya.
Dalam sebuah hadits dikatakan ,”Mu’min yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mu’min yang lemah.”(HR.Muslim), hal ini menjadi jelas, bahwa salah satu bentuk kesyukuran kita adalah dengan menjaga nya. Salah satunya adalah kebutuhan jasmani harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat dan sehat. Kebutuhannya antara lain: asupan makanan, dimana tidak hanya jenis makanannya saja yang bersih dan sehat namun juga  halal, beristirahat, kebutuhan biologis , serta  hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat dan sehat.
Cobalah kita baca sejarah Rosululloh mulia yang mempunyai postur tubuh yang atletis hingga akhir kehidupan beliau di usia 63 tahun hanya sakit sekali yaitu jelang wafatnya beliau . Dan menurut riwayat bahwa Beliau memulai peperangan ketika usianya 53 Tahun. Dalam peperangan Rasulullah memakai baju besi sebanyak 2 lapis, bisa kita bayangkan 1 lapis saja sudah berat. Apalagi ditambah perjalanan menuju medan perrang begitu jauh. Sungguh luar biasa, fidik beliau benar-benar prima.
Hal yang patut kita ingat adalah bahwa tidak selamanya fisik yang baik membawa seseorang kepada kemuliaan di hadapan Allah selayaknya Rasulullah Saw. Justru yang sering terjadi adalah banyak manusia yang memiliki badan tegap, berotot, kekar, macho, seksi, langsing, putih dan lain-lain menjadikannya hina akan keindahan fisiknya tersebut.
Oleh karena itu menjadi hal penting buat kita sebagai makhluk ciptaan Alloh bahwa setiap yang diciptkanNya akan dimintai pertanggungjawaban, oleh karena itu pemanfaatnya harus benar-benar dalam koridor yang diinginkan oleh Alloh SWT.
2.      Potensi Akal.
Akal adalah potensi yang sangat istimewa. Dan akal ini hanya terdapat pada makhluk yang bernama manusia. Itulah yang membedakan antara manusia dengan binatang, tumbuhan, setan, jin, dan malaikat sekalipun. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenali dan membedakan hakikat sesuatu, memaksimalkan yang baik dan mencegahnya dari berbuat jahat dan maksiat.
Sungguh apabila akal digunakan dengan baik pada tiap-tiap manusia maka akan dirasakan kebermanfaatan yang luarbiasa, diberbagai sector akan semakin efesien dan efektif karena berbagai penemuan dan inovasi terbarukan yang sangat bermanfaat untuk umat manusia. Sehingga rasa aman tentram akan memayungi bumi dari kerusakannya. Namun sebaliknya jika banyak  orang pandai dan cerdas di dunia ini, Mereka lulus dengan predikat cum laude, juara olimpiade ataupun nobel memanfaatkan untuk hal yang merugikan Negara ataupun dunia  maka akibatnya  akan membawa negeri ini mengalami kemunduran. Karena sebagian dari mereka menggunakan kecerdasan dan kepandainnya untuk hal negative yang justru merusak tatanan Negara ataupun dunia.
Dari kedua potensi yang disebutkan di atas yaitu potensi fisik dan potensi akal tidak identik dengan kemuliaan seseorang. Dan perlu diingat juga bahwa fisik itu lama-kelamaan akan kendor, keriput, sebagai tanda penuaan. Begitu juga akal yang pintar akan hilang dengan semakin menuanya seseorang, kualitas berpikirnya lama-kelamaan akan terkikis, lambat dan lupa. Oleh karena itu agar kelak saat dimintai pertanggung jawaban dihadapanNya kita mempunyai hujjah (alasan) maka sebaiknya kita manfaatkan dan pergunakan sebagaimana pemiliknya minta atau perintahkan.
3, Potensi Ruhy (Hati)
Ruhy (hati) adalah potensi yang sangat penting. Sebenarnya secara fitrah semua manusia memilikinya dan mampu untuk diarahkan.  Namun  kenyataanya tergantung dari manusia itu sendiri. Kebutuhan akan pemaksimalan potensi ini sungguh luarbiasa, namun tidak setiap orang mampu merasakan dan mau melaksanakan jika mereka tidak memenuhinya. Padahal sarana untuk memaksimalkan nya sudah jelas yaitu melalui ibadah. “ Dan tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali beribadah. (QS. Adzariyat:56). Kalau kita runut maka pemenuhan kebutuhan ruhani ini sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tidak seperti robot yang hanya bekerja tapi tak punya hati, fisiknya kuat tapi rapuh secara ruhy, maka tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup menatap kehidupan yang terjal dan penuh liku.
Kadang kita sebagai manusia sering lupa bahwa dari ketiga potensi dasar itu kadang kita sebagai  manusia  lebih mengutamakan salah satunya, atau dengan kata lain tidak seimbang (tawazzun) contoh potensi fisik, kita akan sering ingat karena kalau tidak makan maka akan lapar, kalau tidak minum maka akan haus, tapi potensi akal misalnya, kita lupa bahwa hari itu kita tidak membaca buku, atau hadir dimajelis ilmu rasanya tidak lapar juga tidak haus, yang lebih bahaya adalah jika kita tidak mnyeimbangkan potensi ruhy, kita tidak sholat, tidak pula mengaji atau dzikir dan merasa biasa saja padahal harusnya ada kekeringan atau kelaparan jiwa dan kehausan ketenangan.Nah inilah yang bahaya, sebenarnya sakit secara ruhy tapi tidak merasa sakit dan karena tidak diupayakan penyembuhan akhirnya kondisi sakit semakin parah.
Hal yang perlu diingat juga, potensi dalam diri ini adalah amanah yang harus dijaga dan dikembangbiakkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Seringlah kita meminta pada sang pemberi jiwa dan raga ini, Allah SWT. Dialah yang telah memberikan potensi itu. Pintalah agar potensi-potensi itu dapat dioptimalkan dengan semaksimal mungkin agar tak menyesal di dunia dan tentu saja di akhirat.
Wallahua`lam.
dikirim ke majalah Media dinas pendidikan jawa timur