Kamis, 22 Oktober 2020

PINGIN NYANTRI TERUS

 

Setiap bertemu tanggal 22 Oktober, hati ini ingin mengenang masa-masa pertama berhijrah. Iya meskipun tak pernah menjadi santri sebuah pesantren besar dalam waktu yang lama secara resmi, tapi ikut merasakan nikmatnya menjadi santri kilat ataupun santri secara informal.

Pernah suatu ketika ibu ditanya tetangga, dan ini bukan pertanyaan yang pertama kali. “mbak mondok dimana budhe!” begitu kira-kira pertanyaan tetangga saya ketika mengetahui saya ketika pulang ke rumah memakai baju muslimah yang lebih rapi dengan jilbab yang lebih panjang dari biasanya. Atau pertanyaan lain, wah mbak sekolah sambil mondok ya?! Dengan santai ibu menjawab, mondok di asrama / kontrakan kampus.

Benar yang dijawab oleh ibu saya, saya tidak pernah mondok secara resmi di sebuah pesantren besar, padahal cita-cita saya sejak SD saya ingin mondok di GONTOR namun apa daya belum kesampaian. Namun keinginan belajar islam tidak pupus  meskipun tidak mondok di pondok besar. Saya tetap bisa belajar islam dilingkungan kampus termasuk d asrama dimana saya tinggal saat kuliah dulu.

Semangat belajar islam mulai tumbuh ketika saya SMA, mengikuti kajian di estrakurikuler adalah kegiatan mingguan saya disela-sela belajar akademis. Dari situlah saya baru memahami pentingnya memahami islam lebih dalam. Akhirnya sayapun mantap berhijrah di saat SMA kelas 2. Salah satu ciri khas saya berhijrah selain dari semangat belajar islam tinggi adalah semakin rapinya baju mulsimah yang saya kenakan. Bahkan seragam sekolahpun sengaja “didedel” (dilonggarin) agar lebih longgar ditambah jilbab yang semakin lebar. Hingga tetangga mengira saya sekolah di Madrasah Aliyah, padahal sekolahnya di SMA Negeri. Tapi dari situlah anugerah terindah saya bisa berhijrah.

Tentu saja tidak sampai disini, semangat membara belajar islam terbawa hingga saya kuliah disebuah perguruan tinggi negeri di kota pahlawan. Dari sinilah semakin luas washilah untuk menambah wawasan keislaman saya. Selain gemblengan di asrama dimana saya tinggal, juga ada pondok tak jauh dari kampus dimana saya bisa bisa belajar bahasa arab, tahsin tilawah dan hafalan. Selain itu juga sering mengikuti pesantren kilat dalam bentuk daurah dsb.

Masya allah kalau mengingat masa itu rasanya ingin terus nyantri. Meskipun sampai sekarang masih bersemangat “nyantri” virtual namun rasa-rasanya semangat awal hijrah berbeda dengan semangat sekarang. Tapi memang berkumpul dengan orang sholeh itu wajib kita cari dimanapun kita berada dan di usia berapapun kita. karena merekalah yang akan mengingatkan kita manakala kita sudah lepas dari jalur kebenaran. Yuk nyantri!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar