Jumat, 23 Oktober 2020

ANTARA DARINGKU DAN DARING ANAKKU



Kondisi pademi yang berangsur membaik menyebabkan banyak sektor masih dilakukan secara virtual atau online. Termasuk didalamnya adalah dunia pendidikan. Sampai saat ini pembelajaran sebagian besar masih dilakukan secara virtual atau moda daring. Sehingga pembelajarannya pun tetap dilakukan dengan meski dengan jarak jauh. Pembelajaran dengan moda daring ini mesti tetap dilakukan meskipun banyak sekali kendala, salah satunya adalah kendala jaringan. Oleh karena itu dibeberapa daerah diluar jawa bahkan dijawa sekalipun masih menggunakan kombinasi daring dan juga luring. Selain kendala utama tersebut adalah kendala emosional yang terus mengintai baik siswa, orangtua dan juga gurunya. Kondisi emosional yang yang berbingkai kebosanan ini akan menjadi kendala besar juga jika tidak diatasi dengan baik.

            Nah, sekarang Bagaimana kabar daringnya anak-anak dirumah, mak? Kalau tingkat kebosanan itu dinilai antara 1-10 maka berapa nilainya mak? Kalau nilainya 8,9 sepertinya samaan dengan saya. Ketika tingkat kebosanan begitu mendera kadang ingin menyerah. Etapi ketika saya ingat tujuan dari daring adalah meminimalisir penyebaran covid 19 saya dan anak-anakpun jadi semangat.

Kondisi bosan dan deadlock yang sering menghampiri saya ini biasanya jika saat daring, emaknya ingin segera mendampingi mereka belajar eh anak-anaknya tidak segera klik atau respon. Pakai acara mbulet pisan. Selain itu, ketika emak harus secara cepat dan kilat ikut memahami pelajaran mereka yang jenjangnya berbeda dan harus dikumpulkan dalam waktu yang sama, hari itu juga.  Padahal emak kan sudah lama tidak belajar materi SD apalagi TK, Duh ya Rabb. Ditambah lagi saat mengirim tugasnya, pakai acara muter-muter itu sinyal. Komplit dah.

Selain butuh me time banget, Rasa-rasanya kalau sudah begini ingin saya tinggal minum es cendol ajah. Mana di daerah saya es cendol lagi menjamur. Itu kalau dari sisi saya sebagai emak saja sudah merasa bosan, apalagi anak-anak ya? Dimana mereka harus ,belajar bukan hanya mandiri, tapi memahami sendiri ilmu yang di gelontorkan sang guru lewat zoom, google classroom dan video di youtube. Makanya wajar kalau emak lagi semangat, tapi pada saat itu justru anak-anak sedang tidak mood. Nah kuota sabar sepertinya harus ditambah saat kondisi seperti ini. Eh andai kuota sabar bisa dibeli ya?! Hehe. Karena justru kalau kita memarahi mereka, mereka akan ambil barrier ke kita. Nah malah tidak sampai tujuan kita.

Lantas bagaimana kalau saya emak yang sekaligus sebagai seorang pendidik. Maka bisa dipastikan pagi daring, sore daring malam juga daring.  Pagi seperti biasanya mengajar mereka via daring, kadang zoom, wajib google classroom, serta video call secara group atau satu persatu-satu. Kalau mengajar kita kreatif tentu tidak begitu membosankan apalagi didukung kemampuan IT dalam bidang ajar mengajar ini. Nah yang bisa membuat bosan kami para guru adalah, ketika harus menunggu anak-anak mengumpulkan tugas, isi daftar hadir dsb. Dan ini bisa sepanjang hari atau berminggu-minggu untuk satu tugas. Itu rutin kami lakukan, “menagih tugas seperti bank titil”  kata teman saya.

Padahal rata-rata kami tidak memberi tugas dalam waktu singkat biasanya bisa dikerjakan sampai tengah malam untuk ulangan, sedang tugas bisa dua hari sampai satu pekan. Kami memahami bahwa mereka pasti juga ada kendala selain faktor kemalasan. Selain itu juga faktor jaringan, terkadang siswa tidak memahami konteks tugas dan mana yang harus dikerjakan. Oleh karenanya meskipun ini di pulau Jawa kamipun kerap sekali mengajar tak hanya daring tapi juga secara luring ke rumah-rumah mereka.

Ah kalau ditanya ke teman-teman sejawat, enak mana daring dan pembelajaran tatap muka? Pasti jawabannya enak tatap muka. Mengajar bisa leluasa, ketemu anak-anak membuat lebih bahagia. Kalau mereka kesulitan bisa menmbimbing mereka lebih dalam lagi. Kalau ada tugas yang belum mereka kerjakan bisa kita jawil langsung. Dan anak-anak sangat jarang bertanya diluar jam dinas kecuali ada hal yang penting dan darurat. Di musim pandemi seperti ini, smartphone kami ini bisa tang ting sepanjang hari bahkan hampir sampai tengah malam dan tidak mengenal libur hari ahad, atau tanggal merah mereka tetap menanyakan tugas yang mereka belum pahami.

Nah, ini yang sedang saya nikmati dimusim pandemi ini dari daring ke daring. Antara daring sendiri sebagai pendidik, dan daring anak-anak. Kalau tidak di harmonisasi bisa berdampak negative pada kehidupan kami mendatang. Insya Allah kita yakin, badai akan berlalu. Kita harus bersabar menghadapi ini semua. Allah kan mudahkan segala ikhtiar kita. amiin.

#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOP Challenge 7

 


1 komentar:

  1. Sama banget, Mbak. Hape saya juga tang ting tung terus sampai malam. Sudah berbaring di kasur mau tidur, harus koreksi tugas dulu yang baru dikirim siswa.
    Yah, kita memang harus bersabar, Mbak. Setuju banget, badai pasti berlalu~

    BalasHapus