Tampilkan postingan dengan label artikel kependidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel kependidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2020

DARING OH DARING : SEBUAH PUISI

 


Doc. Pribadi (ada kalanya kami istirahat sejenak) 

Daring oh daring

Tujuannya baik untuk mencegah penyebaran covid

Karena semakin banyak  ditemukan orang yang sakit

Agar tidak jatuh lagi korban yang terjangkit

Oleh karenanya moda daring dipilih dan meninggalkan kelas klasikal yang sempit

 

Daring oh daring

Awal mula kami sambut dengan bahagia sejahtera

Tanpa ketemu siswa tapi masih bisa berkarya

Merencanakan pembelajaran juga mengolah media

Namun semakin kesini jenuh makin melanda

 

Daring oh daring

Ku ingin temukan semangat yang selalu membara

Agar bisa menghadapi tugas berat juga mulia

Mencerdaskan anak bangsa dengan cara tak biasa

Dengan moda daring meski nyaris tak sempurna

 

Daring oh daring

Meski kejenuhan pada titik tertinggi

Namun tugas pendidik harus tetap dilakukan dengan penuh rinci

Tak hanya share tugas dan juga materi

Menelpon satu-persatu dan menjelaskan materi serta tugas adalah kewajiban kami

Sebagai seorang guru yang harus punya dedikasi tinggi

agar sang murid meski belajar mandiri

mereka tetap punya kemampuan untuk sumbangsih negeri

 

Mojokerto, 19 Oktober 2020

Kamis, 15 Oktober 2020

PENGALAMAN PERDANA PJJ DI RADIO


                                                                 Doc.Pribadi

Apa yang sobat lakukan ketika mendapat sebuah tantangan baru yang selama ini belum pernah terbayangkan bakal melakukan hal ini? Menerima langsung atau memikirkan dulu? Atau bahkan menolak. Kalau saya yang introvert pasti memikirkan dulu. tapi bagaimana kalau membutuhkan jawaban cepat? Dan hasilnya adalah terpaksa menerima.

Termasuk dalam pembelajaran model baru ini, biasanya saya mengajar via zoom, youtube, dan yang paling sering saya pakai dalam pembelajaran adalah google classroom dan didukung oleh whatsapp. Aplikasi tersebut sangat familiar buat siswa saya dan juga saya sendiri. Alhasil, tentu tidak begitu kesulitan ketika kami mengakses serta menggunakannya dalam pembelajaran.

Namun Jumat lalu tanggal 9 Oktober 2020, saya mendapat sebuah tantangan baru dari ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bhs Inggris kabupaten Mojokerto untuk memberikan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh)  via Radio. PJJ menggunakan radio ini merupakan program Mojokerto Belajar hasil kerjasama antara Dinas Pendidikan dalam hal ini akan di wakili anggota MGMP dengan Departemen Komunikasi dan Informasi Kabupaten Mojokerto dalam hal ini dengan radio WIKA FM. Pada awalnya saya mengira bahwa pengurus organisasi mata pelajaran kami ini hanya akan mendampingi bapak ibu guru bahasa inggris yang kami tunjuk. Tapi ternyata justru saya bukan mendampingi namun bersama-sama mengajar berdua via radio yang dijadwalkan 14 Oktober 2020.

Saya yang tidak pernah punya pengalaman sama sekali mengajar on air ini tentu langsung menolak dengan santun. Tapi tetap dipaksa harus bisa, karena konon di kepengurusan ini saya yang paling muda sendiri harus menunjukkan jiwa dan semangat mudanya. Alhamdulillah nya saya dipasangkan dengan teman yang mempunyai pengalaman 14 tahun mengisi radio swasta terkenal di kota kami. Sayapun ingin berusaha belajar dari beliau, tapi karena kesibukan kami masing-masing yang sedang menyiapkan di PTS (Penilaian Tengah Semester) ini maka kami tidak sempat bertemu lagi untuk membahas persiapan, paling hanya via whatsapp saja. Pesan ketua MGMP kami “yang penting siap materinya dulu, nanti kalau ngomong gampang” kata-kata ini terngiang ngiang saya harus menyiapkan dengan baik materi untuk pembelajarannya.

Tidak bisa dipungkiri, karena ini pengalaman pertama otomatis saya masih membayangkan bagaimana nanti, kira-kira kalau deadlock bagaimana, improvisasinya juga bagaimana. Aduuh, kalau membayangkan itu rasanya mau undur diri saja. Tapi tersadar kembali, saya tidak boleh menyerah. Saya harus hadapi ini. Insya Allah dengan izin Nya pasti akan Allah mudahkan.

Hari dimana saya harus on air telah tiba, makin menuju jam nya saya makin nervous. Pukul 14.35 saya sudah hadir di radio WIKA FM. Kami di briefing dulu oleh operator admin dan bapak ibu depkominfo tentang apa saja yang mesti kami lakukan selama on air. Juga me-match-kan materi yang akan ditampilkan di slide di streaming youtube. Jadi selain mengudara melalui WIKA 95.7 FM juga live di streaming youtube.

Alhamdulillah setelah berada didalam studio segala macam nervous hilang seiring dengan saya mulai bicara dalam menyampaikan materi tentang “telling the time”. Meskipun jam on air nya molor hingga 20 menitan karena bandwith nya turun saat itu kata sang admin. Setelah berangsur 10 menit sayapun mulai menikmati gaya pembelajaran model baru buat saya ini. Lagu yang saya berikan ternyata hanya satu yang bisa diputar. Sedangkan yang lainnya tidak bisa. Dan sedihnya ternyata powerpoint yang sudah saya siapkan semalaman tidak tayang di streaming youtube. Tapi tidak mengapa kata teman saya, kemampuannya yang sudah tak terelakkan sudah bisa menutupi kekurangan kami.

Akhirnya sayapun merasa bersyukur Allah berikan kesempatan berharga ini, yang belum tentu datang untuk kedua kali. Ah kalau ada kesempatan kedua kali rasa-rasanya saya akan langsung menerima. Karena saya kira kebermanfaatannya lebih luas dengan PJJ seperti ini. Bahkan tidak musim pandemi pun akan tetap bisa dinikmati oleh siswa. Karena siswa juga akan mudah mengaksesnya baik lewat streaming atau via radio. Akhir kata semoga bermanfaat ya.

 

Senin, 12 Oktober 2020

KALA DARING BERASA GARING

 

Doc.Pribadi (Suasana guru memberikan pembelajaran dengan daring)

Ketika bosan datang mendera, apa yang sobat lakukan? Wuihh…..kalau saya butuh me time banget ini. namun bagaimana kalau mencari me time saja sepertinya sulit?. Hem itulah yang saya alami hari-hari ini. ketika Alah takdirkan konsisi pandemi seperti ini mengharuskan saya sebagai seorang pendidik harus kian kreatif, inovatif dalam pembelajaran. Agar tidak bosan disaya juga anak-anak sebagai peserta didik.

Banyak ilmu yang betebaran bagaimana agar pembelajaran tidak membosankan, lagi-lagi factor kenyamanan, kemudahan dan efektifitas waktu membuat saya harus memilah dan memilih yang sesuai dengan kebutuhan siswa, tidak terlalu muluk namun masuk diranah pikiran mereka. Suatu ketika saya pernah menghabiskan waktu dengan membuat video pembelajaran yang cukup banyak menyita waktu, namun haasilnya tidak terlalu efektif. Ya sudah akhirnya saya berusaha membuat video lebih sederhana namun anak-anak memahami.

Kalau ditanya kepada semua bapak ibu guru, apakah mengajar secara klasikal lebih nyaman dibandingkan mengajar secara daring. Saya yakin mereka akan menjawab iya. Karena belajar secara daring, serasa ada barrier yang membentang antara siswa dan guru sehingga tidak bisa secara fleksibel dalam menjelaskan poko materi dalam pelajaran tersebut. Namun karena kondisi masih seperti ini, ya otomatis harus dijalani.

Apakah rasa bosan pernah menyapa? Tentu saja pernah bahkan sering. Hal-hal teknis kadang yang menjadi alasan utama para guru mudah bosan bahkan stress. Seperti misalnya, sudah membuat video pembelajaran semalaman suntuk bahkan berhari-hari, eh ternyata siswa tidak menontonnya apalagi mengerjakan tugasnya. Sudah janjian dikelas virtual zoom, dikasih link hanya separuh saja yang bisa gabung, atau juga sudah mengirim tugas, eh ada saja siswa yang tidak mengumpulkan tugas atau tidak tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Kami para guru tentu sudah menanyakan kenapa para siswa tidak bisa meresponnya dengan baik.

Bahkan kami senantiasa terus dan tak bosan menginformasikan kepada siswa, melalui group atau aplikasi pembelajaran yang sudah disepakati. Setelah diteliti, dari sekian siswa kami yang tidak mengumpulkan tugas itu adalah kebingungan. Jarang dari mereka yang karena factor tidak ada paketan internet atau kuota. Karena setelah kami confirm ke orangtua, rata-rata murid kami sudah dibelikan. Bahkan bantuan dari sekolah atau kemendikbudpun mereka juga dapat.

Akhirnya masa menanti respon mereka untuk satu tugas dan satu pelajaran tak hanya  hitungan jam namun bahkan sampai hari dan pekan. Itupun tidak sekedar menunggu, harus menelpon mereka, video call bahkan luring ke rumahnya. Padahal tugas bapak-ibu guru bukan hanya sebagai guru mapel saja, mereka juga mempunyai tugas tambahan sebagai wali kelas yang otomatis juga mempunyai kewajiban memastikan anak-anak dikelasnya aman terkendali dalam mengerjakan tugas mereka untuk semua mapel, mengabsen mereka dan juga memvideo call setiap hari.

Olehkarenanya, kadang kamipun juga merasa daring kadang garing sekali. Kegabutan atau kebosanan kadang sudah sangat maksimal dikala kami menanti siswa satu persatu mengirim tugas mereka, sehingga kadang kami harus menjadwal kembali agar mereka tetap bisa mengirim meskipun terlambat. Tapi kembali kami memahami dan menyadari bahwa, faktor M alias malas anak-anak tadi mungkin karena mereka bingung, harus berusaha memahami materi sendiri, sehingga tidak pahamnya ini sepertinya berpadu dalam sebuah kemalasan yang maksimal. Mereka tidak paham karena mereka tidak mendapatkan ilmu secara utuh melalui pembelajaran daring ini, serasa ada yang hilang mulai dari mimik muka, gesture dari para pendidik dll padahal ini sangat berarti buat mereka. Belum lagi soal pendidikan karakter yang tak bisa didapatkan dengan pembelajaran daring.

Senin, 05 Oktober 2020

DARING OH DARING

 





Sobat sekalian pernahkah bertanya kepada anak-anak gimana rasanya belajar dengan model Pembelajaran Jarak Jauh atau yang lebih kita kenal daring ini? seneng, sedih atau bagaimana? Atau malah tidak bisa mengungkapkan karena rasanya yang nano-nano.

Yup, kalau ditanya ke anaknya bahkan pula ke orangtua. Sebagian besar pasti menjawab belajar secara klasikal di ruang kelas yang nyata lebih nyaman, bersemangat dan lebih mudah daripada belajar model daring yang dilakukan secara mandiri dengan Belajar Dari Rumah (BDR). Bagaimana tidak sulit, kalau belajar dari rumah, maka bisa dipastikan  anak-anak akan terkurangi interaksi secara langsung dengan sang guru. Mereka lebih banyak belajar sendiri, latihan sendiri, dan memahami sendiri. Tak sedikit dari mereka yang merasa sangat kesusahan memahami materi apalagi kalau materinya tentang konsep suatu teori ataupun juga praktik.

Kalau ada penjelasan suara dan gambar masih bisa sedikit dinikmati dan dipahami langsung oleh siswa, atau terlebih lagi jika pembelajaran dengan interaksi dua arah seperti menggunakan fasilitas zoom atau google meet maka akan lebih mudah bertanya tentang apa yang sulit menurut mereka. Namun ternyata tak semua guru menggunakan fasilitas ini, sebagian dari mereka hanya menuliskan di Microsoft word kemudian di share. Dan yang lebih fatal, tanpa memberi penjelasan, tanpa pula memberi ringkasan langsung memberi tugas halaman sekian nomer sekian sampai sekian.

Dueng! Ah masak iya siswa disuruh memahami sendiri semua mapel tanpa pendampingan yang masif dan intensif dari guru. Kadang guru kurang memahami, bahwa betapa anak-anak mengalami kesulitan yang luarbiasa tentang pembelajaran model daring ini.  Jadinya kadang siswa merasa sudah disuruh memahami sendiri pelajarannya, minim penjelasan, eh ujung-ujungnya langsung disuruh mengerjakan tugas atau ulangan dengan batas waktu yang sempit pula.

Tentu tak hanya siswa yang mumet alias bingung, orangtua yang mendampingi pun juga bingung.  Yang bisa mendampingi full di rumah saja bingung, Apalagi orangtua yang bekerja dan tak mampu menjelaskan semua mapel (mata pelajaran) ke anak mereka secara maksimal. Akhirnya kadang hanya mengandalkan sumber informasi dari yang tersebar di media sosial dan lain sebagainya. Sehingga keshohihan materi yang runtut seperti konsep yang diinginkan oleh materi dan kurikulumnya kadang melenceng dari jalurnya.

Nah bagaimana anak-anak bisa menguasai ilmu pengetahuan secara maksimal jika pembelajaran jarak jauh sepertinya masih kurang maksimal ini. Mau tanya mbah google pun juga sumber dan referensinya kadang tidak jelas. Dan memang sebaiknya  tidak mengambil mentah-mentah semua informasi yang ada di sana, karena berbahaya sekali untuk masa depan SDM negeri ini. Belum lagi isu hoax yang begitu merebak dimana-mana.

Melihat alasan itu semua, tentu daring ini ada plus minusnya. Namun kita menyadari saat ini daring masih jadi pilihan terbaik untuk belajar,  dengan tujuan untuk menghindari penyebaran virus yang semakin luas. Dan ini dibutuhkan kesabaran ekstra semua pihak. Untuk mengurangi kebosanan yang luar biasa maka  guru harus semakin kreatif agar daring tak garing. dan kita semua berdoa semoga pandemi segera berakhir, agar anak-anak bisa segera menikmati belajar normal di ruang kelas nyata seperti sedia kala.

Minggu, 20 September 2020

PEMBELAJARAN DARING DARI SUDUT PANDANG ORANGTUA

 

Dampak pandemi dalam dunia pendidikan di alami oleh orang tua siswa. Dan tentu saja perubahan drastis ini tidak semua orang tua siap dan sanggup menghadapinya. Banyak kejutan yang tak mereka siapkan kadang membuat parang orangtua cukup terbebani atau berat menghadapi pembelajaran daring ini. Setiap orang tua mempunyai kesulitan sendiri sendiri, mengingat mereka mungkin tidak pernah membayangkan akan menjadi guru anak-anak disetiap mapel. Berikut beberapa kesulitan yang orang tua hadapi selama daring.

1.    Kesulitan mendampingi ananda belajar semua mapel, ini tidak hanya dihadapi orang tua yang bekerja saja. Orang tua yang notabene di rumah pun juga mengalami kesulitan mendampingi ananda. Karena mereka tidak punya background spesialisasi guru mapel (mata pelajaran), apalagi semua mapel. Bisa dibayangkan puyeng nya mereka, dan yang tidak bisa menghandle diri bisa jadi stress kan melanda hari-hari orang tua.

 

2.    Kesulitan mendampingi ananda belajar dari segi digitalnya. Betapa tidak, setiap sekolah bahkan jika tdak diseragamkan maka berbagai guru mapel akan membuat ruang belajar yang bereda, ada google classroom, quizizz, quipper, edmodo dll. Yang seragam saja kadang merasa kesulitan apalagi yang berebeda. Cara melihat pembelajaran bagaimana, mengumpulkan tugas bagaimana dll. Belum lagi jika anak belum mampu mengedit foto dan gambar maka orangtua harus juga mendampingi mereka. Dan kadang pula harus posting di media sosial seperti youtube misalnya.

 

3.    Kesulitan mendampingi ananda belajar dalam hal waktu. Orangtua yang tidak bekerja juga tidak seluruh waktunya ketika di rumah mampu mendampingi ananda belajar. Karena tergadang urusan domestic rumah pun tak kunjung selesai. Apalagi orangtua yang bekerja dikala anak-anak daring pagi, mereka ditempat kerja. Jika anak harus mengumpulkan tugas atau ulangan sesuai jadwal sekolah pagi. Jika mereka kesusahan mereka tidak bisa bertanya secara langsung karena orangtua yang masih bekerja. Jika harus menunggu orangtua pulang, biasanya orangtua pulang energinya sudah kurang maksimal mendampingi belajar. Alhasil pendampingan belajarpun juga kurang maksimal, juga hasil belajarnya.

 

4.    Kesulitan mendampingi belajar karena kurang komunikasi dengan guru, mungkin ada sebagian orangtua yang ada rasa sungkan bertanya pada guru jika ada kesulitan mendampingi anak-anak mereka. Rasa sungkan itu semakin menambah jarakk antara guru dan orangtua, jika guru tidak proaktif menanyakan kepada siswa dan orangtua selama proses pembelajaran berlangsung.

 

5.    Diantara kesulitan-kesulitan di atas yang paling memilukan dan menyedihkan adalah jika orangtua tidak mampu menyediakan fasilitas memadai ke anak-anak mereka. Karena pembelajaran daring artinya membutuhkan layanan internet yang memadai. Otomatis siswa butuh paket internet atau wifi untuk mendukung proses pembelajaran mereka. Apalagi jika pembelajaran ini menggunakan aplikasi yang menyedot banyak kuota, maka otomatis satu bulan bisa berkali-kali beli paket data. Nah, bagi orangtua yang tidak mampu maka ini menjadi kesulitan atau beban besar buat mereka. Karena orangtua anak-anak ini latar belakang ekonominya  berbeda maka kemampuan membelinya juga berbeda.

 

Demikian bebeberapa sudut pandang pembelajaran daring ini dari sudut pandang orang tua. Semoga dari kesulitan-kesulitan yang ada jalan keluar membentang luas, agar ananda dan orang tua juga para guru mampu memaksimalkan belajar dengan daring ini.

Meskipun kita tahu bahwa orangtua khususnya ibu adalah madrasah pertama orangtua, namun tak semua orang tua mempunyai kapasaitas mendidik ananda untuk semua bidang pelajaran, apalagi jika jenjang sekolah ananda makin tinggi.

 

Minggu, 13 September 2020

PEMBELAJARAN DARING (PART 1)


Salah satu dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia sudah lebih dari enam bulan terakhir ini adalah pada aktifitas belajar-mengajar. Tak terkecuali di negeri ini, sejak pertengahan Maret aktifitas pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh menjadi sebuah pilihan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas.

Semua jenjang pendidikan dari mulai PG, TK,  SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Tidak ada lagi aktifitas pembelajaran di ruang-ruang kelas atau secara klasikal sebagaimana lazimnya dilakukan disekolah. Siswa  bersekolah dan belajar di ruang-ruang virtual dengan sekolah dari rumah mereka masing-masing. Apakah mudah sekolah dengan model seperti ini?

Sungguh ini adalah pilihan maha berat, pilihan belajar dari rumah masih pilihan sangat tepat saat pandemi. Pemerintah meminimalisisr penyebaran covid 19 ini dai kalangan siswa atau berharap tidak ada cluster baru yang muncul dari siswa. Jadi meskipun berat tetap harus dilakukan. Karena ini urusan kesehatan dan nyawa tentunya. Namun pilihan yang di ambil ini memang sungguh mendadak, atau  tanpa persiapan yang memadai. Dari tenaga pendidikpun juga harus dibuat siap meski kalau ditanya ya tidak siap.  Akibatnya banyak tenaga pendidik “spaneng” menghadapi perubahan drastis ini.

Kegagapan daring pun juga dirasakan berat oleh siswa dan orang tua. Karena ruang belajar virtual sangat berbeda dengan ruang belajar klasikal. 

“Kita harus jujur proses adaptasi ke online learning juga sangat sulit. Paling tidak masih ada pembelajaran terjadi daripada sama sekali tidak ada pembelajaran”.kata Mas Nadiem,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 

Sungguh memang ini kondisi yang terasa amat sulit, ingin tetap memberikan dan mempersiapkan SDM masa depan Indonesia, namun melihat kesiapannya  yang sangat jauh dari memadai ini akhirmya memberikan dampak yang kurang baik dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah pada metode pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. 

Bagi guru ini adalah pengalaman pertama mengajar di ruang kelas virtual secara keseluruhan, biasanya guru menggunakan ruang-ruang kelas secara virtual hanya untuk mata pelajaran atau guru tertentu saja. Sekarang pembelajaran daring ini semua mata pelajaran wajib mempunyai ruang kelas meskipun hanya dari ruang grup WAG (Whastapp Group) saja. Namun tentunya karena harus menggunakan ruang kelas virtual, support fasilitas seperti alat komunikasi dan juga internetnya harusnya memadai. Namun kenyataanya, masih jauh dari sempurna terutama untuk kalangan masyarakat yang minim pendapatan. Selain itu praktik pendidikan di era digital memerlukan inovasi dan kreasi yang terus-menerus sehingga guru maupun anak didik tidak mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan, dan ini adalah tantangan tersendiri.