Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2020

Cerita si kembar

 


Hampir 10 bulan sudah kalian belajar dirumah banyak hal yang kalian pelajari dirumah. 


Terimakasih atas kemandirian yang makin bertambah


Terimakasih atas tanggungjawab yang makin bertumbuh


Terimakasih atas kerelaan dan keikhlasan menjaga adik-adikmu


Terimakasih atas kemampuanmu menjaga adik-adikmu, hingga mereka memgerti untuk  tidak keluar  pagar


Terimakasih atas waktu main yang berkurang karena harus membuatkan susu atau sekedar menggorengkan telur adik-adikmu


Terimakasih atas kemampuan mengganti popok dan baju adikmu


Terimakasih atas kemampuan memandikan adik-adikmu


Terimakasih atas kemampuan menidurkan adik-adikmu


Terimakasih atas kemampuan memilihkan tayangan video yang baik untuk adik-adikmu


Terimakasih atas ikhtiar menjaga sholat dan ngajimu


Terimakasih

Terimakasih

Terimakasih


Anak-anak ku sayang, pandemi membuatmu makin mandiri. 


Semoga segera berakhir dan kalian bisa bermain dengan teman-teman di sekolah, dan meneruskan cita -cita dan mimpimu.


Dari abi bunda (♥ω♥*)

Minggu, 08 November 2020

Mendekatkan mimpi


 Tuntutlah ilmu sampai ke negeri china. Begitulah sebuah hadist disampaikan oleh rasulullah. Agar umat islam senantiasa bersemangat mencari ilmu sampai kemanapun, meskipun jauh dari tanah kelahiran. 

Begitulah kira-kira yang kami ingin bangun dari anak-anak kami. Meski masih 2 tahun lagi mereka bersekolah ke jenjang lebih atas lagi, tapi kami berusaha untuk mengenalkan mereka pada jalur mimpi mereka. Salah satunya adalah mengajak mereka ke sekolah dan pondok yang menjadi impian mereka.


Kami ajak mereka survey beberapa pondok yang semoga mereka bisa diterima disalah satu pondok ini. Kami merasa sebagai orangtua wajib untuk mendekatkan mimpi mereka. Seperti si kembar ini yang bermimpi sekolah di Turkey atau Mesir maka jalur cepat nya adalah mereka memilih pondok yang banyak alumni nya menimba ilmu disana. 

Alhamdulilah, ahad 8 November 2020 berkesempatan silaturahim ke pondok yang diinginkan mereka. Nur hidayah Solo, Baitul Quran Sragen, dan Gontor Putri mantingan Ngawi. Entah yang mana atau bahkan bukan disini, yang pasti kami berharap mereka sudah mengenal jalur mimpi ini, dan kami berusaha mendekatkannya.



Rabu, 14 Oktober 2020

BOOK LOVERS

 




Setiap orangtua mungkin ingin setiap anaknya menjadi pecinta buku? Karena didalam buku terdapat ilmu pengetahuan yang sangat luas, padat informasi, dan lebih credible dibandingkan dengan media informasi lainnya. Meskipun tidak menutup kemungkinan tetap ada kekurangan.

Kami sebagai orangtua sudah memulai menjadi pecinta buku jauh hari sebelum menikah. Sehingga ketika sudah menikah, terpadulah bukan hanya dua hati saja tapi juga ratusan buku. Aiih….bahkan mahar kamipun salah satunya adalah buku pula. Terus bagaimana kami menanamkan anak-anak menjadi pecinta buku?



Pada awalnya kami tidak terlalu memplanning anak-anak menjadi pecinta buku, sehingga kamipun pada awalnya tidak terllau berpikir bakal membelikan buku yang banyak untuk mereka. Sehingga pada awalnya hanya membelikan dua buku hardcover yang berisi tentang kisah anak-anak. Sedang ratusan bahkan ribuan koleksi kami hampir semua isinya hanya sesuai untuk konsumsi orang dewasa, kalau anak-anak terlalu berat. Jadi 2 buku ini beisi komik bergambar warna yang islami. Setelah kami amati ternyata anak-anak sangat menyukai 2 buku ini.

Mulai dari situ kami sangat berupaya membelikan buku kesukaan mereka. Kalau ada kesempatan bisa hadir di bookfair maka kamipun membelikan, kalau tidak sempat maka kami akan beli secara online. Setelah melalui proses monitoring aktivitas membaca mereka selama berbulan bahkan tahun, kami simpulkan ternyata anak-anak lebih suka membaca buku pengetahuan seperti ensiklopedia dan komik. Padahal sebelumnya sempat kami belikan buku tentang sirah Muhammad Teladanku dengan merogoh kocek cukup dalam di usianya yang masih 6 tahunan.

Pantas saja mereka kurang tertarik ketika kami konsultasi dengan book advisor nya buku tersebut di usia 6 tahun sebaiknya masih dibacakan atau diceritakan sama orangtua. Setelah itu akhirnya kami lebih sering memberikan pada mereka buku pengetahuan dan komik islam. Apakah kami memberikan buku secara cuma-cuma? Tentu tidak. Sebagian besar buku-buku tersebut didapat karena mereka sanggup menerima challenge dari kami. Satu persatu bukup mereka tambah banyak, akhirnya di usia mereka 7 tahun kami harus menyediakan rak khusus untuk meletakkan buku – buku mereka.

Tahun berganti hingga si bungsu lahir, saat itu sikembar usia 8 tahunan. Ternyata kehausan membaca semakin menjadi-jadi. Buku sirah Muhammad teladanku satu persatu mereka baca. Saya yang tidak tuntas membacakannya saat itu kini sudah mereka lengkapi bahkan mereka ulang-ulang. Bahkan salah satu yang paling disukai oleh mereka membaca buku bagaikan menina bubukan mereka.Alhamdulillah hadza min fadli rabbik. Kecintaan pada buku ini ternyata tidak terjadi pada adiknya yang laki-laki. Dia lebih suka main mobil – mobilan, robot, pedang dll. Kadang sesekali saja ia membacanya itupun kalau melihat kakaknya membaca.



Setiap anak memang berbeda, mereka diciptakan untuk memberi warna-warni kehidupan kita. Kesukaan si kembar pada buku ternyata menular bukan sama si sholih namun pada si bungsu. Kalau tidak membaca buku, bakal sulit tidur katanya. ketika semua pada hening membaca iapun juga telihat mojok dengan bukunya. Apakah sudah bisa membaca? Sepertinya ya belum, tapi ia sangat menikmati membaca ( red.membolak-balik) buku ini hingga sering tak kenal waktu, termasuk sering terlelap bersama banyak buku disampingnya. Kalau dilihat dari usianya mungkin terlalu kecil di sebut book lovers, tapi kalau dilihat dari keseringan dia membaca buku, bahkan setiap hari ini rasa-rasanya bolehlah disebut calon booklovers.

Semoga semangat mereka membaca, menjadilkan mereka lebih luas secara keilmuwan, lebih wise dalam menjalani kehidupan. Kami tak meninggalkan harta kekayaan berupa emas berlian, namun harga termahal kami berupa buku adalah lebih baik untuk mereka.

Minggu, 11 Oktober 2020

BERBAGI PERAN DALAM RUMAH

 


Setiap orang terlahir dengan perannya masing-masing. Dan yang paling utama adalah peran dalam keluarga. Karena peran dalam keluarga ini adalah pondasi, ketika ia keluar kalau pondasinya kuat maka tak akan mudah goyah.

Keluarga kami pun terus belajar untuk menerapkan peran masing-masing, agar harmonisasi keluarga terus terjaga. Kami memahaminya sebagai peran primer dan peran sekunder. Peran primer seperti ayah sebagai kepala rumah tangga, tentu tak akan tergantikan selama ayah masih ada. Sedang peran sekunder adalah lebi pada pembagian tugas di rumah. Seperti juga peran primer, peran sekunder ini mempunyai peran sangat penting. Kami menyebutnya peran sekunder ini adalah tugas di rumah.

Pembagian peran atau tugas sekunder ini bisa melalui musyawarah bersama anggota keluarga. Tak selamanya memasak itu peran ibu yang tak tergantikan, suatu ketika bisa jadi ayah yang memasak. Ini tergantung kesepakatan. Mengantar anak sekolah ataupun menjemputnya juga tidak selalu peran ayah, bisa juga ibu namun sekali lagi tergantung kesepakatan bersama.

Seperti di rumah kami, pembagian peran atau tugas yang dilakukan berdasarkan kesepakatan di musyawarah keluarga adalah hal yang wajib kami patuhi. Meskipun dalam perjalanannya dipastikan ada ketidaktertiban dalam pelaksanaan. Akan tetapi karena ini sebuah keputusan maka harus berusaha mengerjakan, tapi jika memang benar-benar tidak bisa maka harus dikomunikasikan.

Saat ini di rumah kami yang bertugas memasak adalah ayah, maka untuk membantu ayah mudah dan hemat waktu dalam memasak ketika akhir pekan bunda membuatkan bumbu dasar. Karena penghuni di rumah sudah kadung selera lidahnya masakan bunda. Ditambah lagi Ayah mempunyai peran atau tugas memandikan si bungsu, tentu ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit, kadang waktunya mandi si bungsu masih lari kesana kemari. Dan tugas selanjutnya adalah menyiapkan kendaraan ayah-bunda untuk berangkat kerja dan juga menyiram bunga serta sayuran di sekitar rumah.

Sedangkan bunda, selama daring ini tugas utama adalah mendampingi belajar anak-anak dan memastikan tugas serta ulangannya terkirim semua. Selain itu mendampingi anak-anak dalam mengaji dengan mentahsin tilawahnya serta murojaah hafalannya. Tugas lainnya adalah merapikan seluruh isi rumah yang tidak menjadi tugas anak-anak.

Si kembar memiliki peran utama yaitu merapikan kamar sehabis tidur. Berikutnya adalah mengangkat cucian ke lantai dua, kemudian mencucinya serta menjemurnya juga. Selain itu mereka memiliki peran memastikan lantainya bersih serta menyiram sayur dan bunga dilantai 2.

Sedangkan si Sholih yang masih TK memiliki peran sederhana, namun tetap kami ajak berperan agar dia terbiasa dan kemandiriannya terbentuk sejak dini. Dia berperang menata dan merapikan sandal-sepatu, menyiram  bunga di garasi serta memberi makan ikan di ember.

Peran-peran ini tentunya mudah dilakukan dikala hati sedang gembira, namun dikala hati sedang dirundung kemalasan tentu tidak akan berjalan dengan lancar. Terutama anak-anak, mereka masih harus sering diingatkan agar menyelesaikan tugas atau perannya dengan baik. Agar tidak mudah bosan biasanya dua pekan sekali kami evaluasi, dan bisa berganti peran atau tugas agar tidak bosan. Kami merasa sebenarnya melibatkan anak-anak dalam pengerjaan tugas rumah tangga ini berat, kesuwen Bahasa jawanya (kelamaan). Namun karena kami ingin membangun anak-anak bukan mengurus anak-anak, meskipun berat kami ikutsertakan mereka bersama dalam tugas ini. Sebenarnya kami sangat bisa melakukan sendiri, namun membersamai mereka dalam practicle life adalah hal penting yang harus kami lakukan agar terbentu kemandirian mereka. Susahnya kami hari ini insya Allah akan kami petik hasilnya saat mereka dewasa, sedangkan jika apa-apa kami laukan sendiri maka kerepotan kami akan petik juga saat mereka dewasa. Begitu nasehat bang Aad seorang pakar parenting.

Senin, 05 Oktober 2020

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 6

 


“Bunda..dimana buku Bahasa arabku?“ Teriak si sulung."Lho kan di rak lemari meja belajar biasanya kan nduk.”jawabku.

“Nggak ada bund….”pungkasnya

Suatu pagi, teriakan si sulung membuyarkan aktivitas beberes saya di dapur. Akhirnya saya pun ikut mencari itu buku. Hem….Dia yakin tidak ketinggalan disekolah. Kami mencari di ke empat rak buku di rumah kami. Dan akhirnya setelah mencari lagi, ...aha ketemulah diatas tumpukan buku yang sudah tidak dipakai lagi. Lho…..kok bisa disitu, padahal tumpukan buku itu untuk buku lama yang sudah tidak dipakai, Tanya saya. Kakakpun menggeleng kepala bingung mau jawab apa.

Kalau ingat peristiwa ini jadinya merasa bersalah. Kenapa saya masih saja membiarkan tumpukan buku tak terpakai di rumah. Eman dibuang adalah alasan utama saya. Kawatir kalau nanti masih dibutuhkan oleh si adik. Padahal kurikulum itu kan tidak selalu sama ya. Selain itu kalau mau memberikan juga bingung mau memberikan kesiapa. Sudah Tanya sana-sini tapi masih nihil informasi karena buku-buku yang ditumpuk itu adalah buku pelajaran.

Buku adalah salah satu kategori yang harus diberesin dalam kelas ini. Wuih….padahal dari dulu kami berdua selalu berprinsip bahwa buku adalah salah satu harta berharga kami, makanya banyaknya buku dirumah kami tak membuat kami merasa keberatan. Beda dengan barang lain. Alhasil termasuk paling berat untuk melepas buku ini. Kalau buku pelajaran si kakak yang sudah tidak terpakai sih tidak masalah, tapi buku-buku kami yang lain yang masih susah menego hati kami.

Tapi kembali sang mentor mengingatkan, apakah benar banyaknya buku dirumah kami dibaca semua? Ah sobat sekalian kalau diberi pertanyaan ini kami tidak mampu menjawab. Karena ternyata betapa banyak buku dirumah lama tidak terbaca. Tidak terbaca alasannya macam-macam, ada yang karena sudah dibaca dan malas mengulang, adapula buku asal beli padahal tidak sesuai passion.  Buku kami semakin banyak ketika kami masing-masing ketika menikah membawa harta benda ini dari kos kami masing-masing. termasuk kertas –kertas yang entah antara kami malas membuang dan malas memilah.

 Yang lebih mengagetkan adalah masih ada buku yang terpacking plastik ini. Jumlanya tidak 1-2 kadang ada sepuluhan buku. Lho mau bagaimana wong kami terutama suami hobi banget beli buku. Beli banyak alasan utama mumpung ada expo dan mumpung diskonnya besar. Gusti, apakah ini nanti tak memberatkan pertanggungjawaban kami diakhirat. Padahal sekarang buku jarang terjamah, karena senang membaca yang di medsos daripada buku, karena lebih cepat, lebih mudah dan tidak harus bawa-bawa buku kemana-mana.

Akhirnya meskipun berat, karena buku yang jumlahnya ribuan ini adalah harta benda kesayangan kami. Tapi karena kawatir pertanggungjawaban di akhirat kelak, maka akhirnya menjadi sasaran berbenah kami. Bukan hanya di rapikan, tapi juga di sortir habis-habisan. Kemana larinya buku yang tidak dipakai…..alhamdulillah setelah nihil mencari informasi, akhirnya malah ada saudara yang mau menampung buku-buku yang tidak dipakai itu  Ya Rabb ringankan hisab kami karena harta buku ini.

Sabtu, 03 Oktober 2020

SAJAK 10 TAHUN KEBERSAMAAN

 


 

10 tahun kebersamaan

Datanglah seorang laki-laki sholih

Yang tak pernah kukenal sebelumnya bahkan saat itu

Hadir dengan tekad yang kuat dan mantap

Meminta kepada ayah sebagai waliku

 

10 tahun kebersamaan

Ibadah ini bukanlah sesaat

Ibadah ini bukan pula bisa di singkat

Namun ibadah pernikahan adalah ibadah yang paling lama

Maka dari itu ia tidak serta merta dijawab dengan tergesa

 

10 tahun kebersamaan

Akupun harus mengadu dulu kepadaNya

Apakah namanya tertulis di lauful mahfudz sana

Sebagai jodoh ku di dunia

Dan insya Allah di akhirat sana

 

10 tahun kebersamaan

Ternyata Allah menjawab tentang dia

Dan akhirnya berpindahlah tanggung jawab ayah kepadanya

Laki-laki yang asing yang kini ku hidup bersamanya

Mengarungi biduk rumah tangga dengan segla rasa suka dan duka

 

10 tahun  kebersamaan

10 tahun pernikahan tentu banyak cerita

Tak selalu mulus, namun ada pula kerikil tajam yang menggelitik kakiku dan kakinya

Namun kami sadar ini bagian dari ujian kenikmatannya

Apakah kita sanggup atau malah lari sejauh-jauhnya

 

10 tahun kebersamaan

Hari penuh kejutan selalu datang menghampiri

Sebagai pengingat agar senantiasa kuatkan ikatan suci ini

Jikalau layu maka harus segera disirami

Jikalau rerimbun tak rapi maka harus segera disiangi

Biar ia tumbuh sehat kuatdan terus mewangi

 

10 tahun kebersamaan

Mari merenda asa

Demi sebuah cita-cita mulia

Membentuk peradaban yang terbaik menurutNya

Agar jejak kebaikan menjadi pemberat amal sholih kita

Dan berujung pada kenikmatan surga yang tiada tara

 

 

Sabtu, 26 September 2020

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 4 “KATEGORI PAKAIAN”

 


                                                                    Sumber foto: google

Sobat sekalian pernah tidak menghitung. Berapa banyak jumlah Baju dilemari kita? Ada berapa jumlah

Atasan?

Bawahan?

Gamis?

Khimar?

Ciput?

Slayer?

Masker?

Manset atau Kaoskaki yang sepasang atau hanya tinggal sebelah?

Yuk sobat sekalian mari istighfar bersama jika kita merasa sulit menghitungnya. Dilemari kamar ini katanya isinya baju kita ajah, eh ternyata barang-barang kita ada juga dilemari nya anak-anak, dilemarinya suami. Bahkan di ruang yang kita sebut gudang.

Mari coba kita renungkan dari semua baju yang kita punya dan tumpuk di rumah apakah semua  dipakai? Atau yang mana yang sering kita pakai, apakah itu-itu saja? Hem….sepertinya yang nyaman hanya beberapa. Lah terus bagaimana dengan yang lain? Apa fungsinya mereka  menghuni di rumah kita? apakah  mereka ngontrak lemari kita ya? 

 Bagaimana tidak ngontrak atau bahkan seakan memiliki rumah kita, wong keberadaan mereka di rumah kita ada yang setahun,  hampir lima tahun bahkan sepuluh tahun dan sedihnya mereka tidak atau belum kita kenakan, dia hanya diam termenung, dan menumpuk di lemari kita. Bahkan…..sssttt kadang ada yang masih packingan dari toko dan masih ada tempelan harganya pula.

Ya Alloh…..segitunya ya kita, dulu pas beli baju buat apa? Sekedar inginkah karena trend atau kekinian modelnya? Atau memang butuh? Hem….jangan sampai  karena sebuah alasan kita mencoba memaksa memaklumi diri sendiri, “maklum lah kaum wanita suka belanja”. hiks……kalau ada diskon pinginnya sih tutup mata. Ternyata belum bisa. Termasuk saya salah satunya. Kalau mau belanja offline padahal sudah dicatat nih kebutuhan dari rumah, nyatanya ketika sudah on the spot, bakal ada barang-barang yang tak tercatat namun kebeli,  atau mau beli sesuatu via online pun juga demikian ketika melihat barang yang diskon sering kalah sama ajakan nafsu, terus dibayang bayangi syetan “ mumpung diskon” belum tentu ada diskon lagi. Duh ya Rabb!

Padahal kalau kita bisa mengekang  nafsu kita untuk membeli baju yang "sekedar ingin" tadi dengan baik, maka kita akan mampu menata pengeluaran dengan baik, uang tersebut bisa kita alokasikan ke yang lain yang lebih faedah. Dan pula masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita, walau hanya sekedar baju. Untuk kebutuhan primer yang namanya makan saja mereka susah makanya mereka tidak memikirkan baju. Eh….kitanya masih mikirkan menambah koleksi.

Ohya Ini masih soal baju kita lho ya, kita para kaum hawa belum ke baju keluarga kita, baju suami, baju anak-anak yang sudah mulai kekecilan dan mungkin penghuni lain di rumah kita. Maka sebuah pesan yang menarik dari sang mentor adalah jika kita menyortir barang termasuk kategori baju ini. cara yang paling gampang adalah tanyakan pada diri sendiri, setiap menyortir baju kita “ ini baju membuat saya bahagia atau tidak” kalau iya simpan. Tapi kalau tidak maka lepaskan, sedekahkan. Sekali lagi tinggalkan kata, nanti kalau dibutuhkan gimana? Insya Allah akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Sekali lagi jangan sampai karena masalah perbajuan yang jumlah over ini memperlama hisab kita nanti.

Yuk mari beristighar kembali dan saling mengingatkan ya sobat. wallohualam

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 3

 

Setelah mengikuti kelas berbenah sadis ini, rata-rata peserta belum bisa move on dari kegiatan dikelas.... Why not?  It's really nice class sobat.  Masya Allah takdir Allah luarbiasa, saya diberi kesempatan bergabung dikelas yang syarat ilmu perbaikan diri dan keluarga ini.

Ohya bagaimana kisah kelas sedang live ya ?kelas tidak selalu di buka ya, hanya pas saat live atau absen berlangsung saja kelas dibuka. Oleh karena itu Jika kelas berlangsung, semenit ajah ketinggalan diskusi manjatnya bakal pegel. Karena murid alias para peserta ini super aktif, aktif dalah sharing, diskusi dan saling support.  Kurang semenit jam diskusi, materi atau absen maka peserta harus hati-hati karena grup akan dikunci oleh admin.

Bagaimana jika telat ngumpulin tugas Dan absen semenit saja tetap akan mendapat nilai  nol tanpa ampun dengan alasan apapun tidak akan diterima. Eits...... Saya sudah pernah dapat gegara lupa ngumpulin tugas dan kurang teliti Ada tugas lanjutan dibawahnya.

Sebenarnya apa sih sukanya kalau ikutan kelas ini, karena kami sama-sama ingin mendapatkan iomu secara utuh maka kamipun saling support agar tidak sampai DO (Drop Out)  alias ter eliminasi. Ah betapa saya dapat memetik manfaat luarbiasa bergabung dalam kelas ini. jika mungkin saya melakukan sendiri, tidak ada monitoring dan evaluasi mungkin bakal menegerjakan asal saja. Namun ketika saya bersama dengan orang-orang yang mempunyai semangat dan frekuensi yang sama maka akan menambah keistiqomahan dalam berbenah ini.

Nah jika tiba waktu mengerjakan tugas adalah hal menyenangkan, karena semua-semua ingin rasanya segera diberesi, dirapikan dan dikurangi. Sungguh kami saat itu hanya perlu menghabiskan waktu didepan saja. Karena jika barang sudah tertata rapi, dan sudah sesuai kategori maka sebenarnya kami merasa hemat waktu mengambilnya. Nah termasuk saya dan keluarga. Kalau ada yang nanya dimana ini-itu maka sayapun sampai sekarang dengan mudah menjawab.  

Jadi teringat dengan banyaknya barang di rumah waktu itu, Ya Rabb betapa banyaknya barang dirumah ini. Mulai dari kategori pakaian, komono, buku ataupun barang sentimentil. Tak semua mereka menampati tempatnya dengan baik, kadang ada di sini, harusnya padahal tidak disini, kadang harus disitu padahal harusnya tidak disitu.  Ah betapa banyaknya barang-barang itu selama ini menghuni rumah ini bertahun-tahun namun tak kami sentuh , rawat dan jaga dengan baik. Oleh karena nya barang-barang yang ikut membersamai kami namun kami tak merasa keberadaanya ada, tapi nyatanya ada dirumah kami dan bahkan telah memenuhi rumah kami maka kami harus segera merapikan, menyortir nya. Jika tidak dikawatirkan kan menjadi keribetan kami kelak di yaumil hisab. Mohon doanya ya sobat, agar kami istiqomah.

 

Sabtu, 19 September 2020

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS PART 2 “ MELIPAT ALA KONMARI"



Sekitar setahun lalu, sliweran baca di media social entah facebook atau instragam, mengetahui model melipat ala konmari, dengan hanya dari melihat hasilnya rapi penulis pun ikut langsung praktik. Dan yang menjadi percobaan adalah bajunya para bocah. Baju dewasa belum berani, karena baju kawatir lecek karena dipakai kerja  Sedangkan baju anak-anak pun juga yang dicoba melipat ala konmari ini, yang baju non-seragam. Etapi, ternyata, percobaan saya salah, belakangan pas ikut kelas online akhirnya tahu  ilmu yang penulis terapkan itu salah, dan bahkan tak terarah, dipraktekkan ala-ala dan asal melipatnya.

Hampir setahun penulis bertahan dengan melipat yang ala-ala konmari ini,  tapi masih bertahan hanya pada baju si kakak, bahkan sampai sebelum ketemu dengan kelas online berbenah sadis ini #KBS7 ... karena masih ala-ala alhasil ketika di pakai ya masih lecek. Itulah pentingnya ilmu sebelum amal.  Sedang kan baju si sholih gak tahan lama. Si doi ambilnya sembarangan jadi sisanya kadang berantakan dan tidak rapi lagi. Bahkan sampai sekarang sih, tapi penulis tetap saja melipat ala konmari, dan sambil terus mengajak doi belajar mengambil dengan rapi.

Terus bagaimana baju kami yang dewasa? Eit.. Belum berani coba. Sudah ciut duluan ini niatnya. Juga penulis kira awalnya melipat konmari hanya cocok untuk anak-anak saja. Dan penulis pun berani melipat model konmari hanya kalau mudik saja. Nah itu pun dikaretin, padahal konmari yang benar dia bisa berdiri tanpa dikaretin dan tanpa sandaran 😅. Duh jadi malu. Nah ini salah satu berkah hikmah dibalik musibah pandemi. Akhirnya saya memantapkan diri mengikuti kelas berbenah sadis 7 KBS #7

Roll coaster kelas online ini luarbiasa, kalau tugasnya menukik semakin tertantang, kalau tugasnya landai saatnya refresh diri. termasuk dalam hal melipat ala konmari ini. Meski belum rapi-rapi amat, tapi yang paling penulis syukuri adalah berkurangnya baju yang ada dirumah.  Kami sekeluarga terutama penulis, merasa tertampar masih banyak baju kami sekeluarga yang tak terpakai disimpan dirumah.😩 Alloh ya Rabb. Jadi teringat nasehat teh Rika sang mentor. 

Jangan sampai banyak nya baju kita menjadikan hisab kita lama.

MakJleb. Akhirnya penulispun berjibaku mengurangi secara drastis perbajuan dirumah. Terutama baju anak-anak yang sudah kekecilan. Dulu penulis pikir bahwa baju anak-anak disimpan, entar buat adiknya, sayang-sayang dalam benak penulis kalau dikasihkan orang, barangkali masih dibutuhkn dikemudian hari. Ternyata malah kebalik mindset ini, justru dikasihkan Insya Allah kan Allah ganti dan cukupkan dengan yang lebih baik. Jadi dikelas ini selain diberi materi untuk di praktikkan juga diberi materi dan nasehat yang semakin menguatkan ruh dan jiwa kami para peserta, tak hanya merapikan namun juga harus bisa melepaskan barang-barang yang ada dirumah. Karena sesuangguhnya 

Merapikan tak sama dengan melepaskan.

Tentu saja sobat sekalian, bagi penulis terutama semangat dalam kebaikan itu butuh komunitas, butuh teman - teman yang saling menguatkan, mendukung. Dan benar di kelas ini kita benar-benar penulis temukan teman yang saling mendukung,  saling berbagi ilmu tentang praktik berbenahnya. Hal penting yang bisa penulis ambil ilmunya dari kelas berbenah ini adalah bahwa dengan merapikan baju memakai  ilmu sebenarnya memudahkan kita, menghemat waktu kita. Dan apalagi jika  barang kita tidak terlalu banyak jumlahnya.

Selain dari diri sendiri, komunitas yang saling menyemangati, ilmu juga yang paling pentng adalah doa kepada Allah agar diberikan ketatagan atau keikhlasan dalam hati dengan mudah melepaskan titipannya adalah yang paling penting. Makanya salah satu ilmu yang penulis dapat adalah jika berbenah, ta`awudz dulu agar dijauhkan dari syaitan yang membisiki diri kita agar kita mengeman barang tersebut, dan sebisa mungkin dalam satu waktu menyortirnya. Agar tidak ada ruang dalam hati dan pikiran kita untuk bilang "ini saya simpan barangkali saya butuhkan". Padahal ternyata tidak dipakai akhirnya, dan menumpuk. Ohya dalam berbenah ini pun sebaiknya kita harus dapat dukungan keluarga ya, semangat kita harus juga mengalir ke mereka. Dan bahkan kalau bisa mereka ikut membantu kita. Alahamdulillah anak-anak juga ikutan senang membantu. Suami juga mendukung, mengizinkan bajunya juga di sortir. Tapi, saking sadisnya penulis menyortir sampai ada baju kesayangannya yang katut penulis lepaskan. "Ups....si doi bilang wah bunda kurang teliti sih".  Aduh maafkan istrimu bapak.

Ohya, satu lagi tentang metode konmari adalah jika kita menyortir barang, maka tanyakan pada diri sendiri. Barang itu membuat bahagia atau tidak. Jika iya maka simpan, jika tidak maka buang atau lepaskan (bahasa buang boleh dibuang beneran atau di sedekahkan). Dan dalam metode ini pula, tidak merekomendasikan adanya gudang. Alhasil penulispun ubrak-abrik gudang kecil dibawah tangga, hasilnya "plong" dan lega. Namun dari itu semua yang paling penulis jadikan penyemangat atau booster agar tetap berbenah sampai kapanpun adalah tentang hisab😩😩😩, kalau ada baju baru yang masuk, maka harus ada yang dikeluarkan. Hiks tantangan penulis yang masih sampai saat ini dan masih susah adalahh seragam kantor, kurang membuat bahagia aslinya tapi wajib simpan untuk kepentingan kerja.



Mohon doanya ya sobat sekalian agar penulis dan keluarga istiqomah. kalau dibanding dengan peserta lain kami masih jauh, bahkan batch sebelumnya ada yang menyisakan bajunya sendiri 7 helai saja. ups mungkin dari sini ada pro dan kontra ya. tapi silakan ambil hikmahnya.

NB: foto lipatan baju yg belum terlalu rapi itu dikira teman saya jualan batik😅

bagi yang penasaran ikut kelasnya silakan tilik fb teh Rika Subana, dan belakangan kelas berbenah sadis ditambah namanya menjadi kelas berbenah sadis elementary #KBSE. 

Sabtu, 12 September 2020

REVIEW KELAS BERBENAH SADIS (PART 1 )

 


Sobat, bagamana kalau kalian mendengar kata sadis? Iiih… ngerikan ya. Nah,  bagaimana kalau kata sadis ini dipakai dalam beberes? Seremnya kek gimana ya? Iya serem banget sih. Kalau tidak serem ga lulus - lulus nanti alias tereliminasi.


                                                            sumber: google

Alhamdulillah Maret lalu, kira-kira sebulan sebelum Ramadan, alhamdulillah Allah beri kesempatan saya untuk mengikuti kelas kece ini. diasuh oleh coach yang superkece dengan asisten yang killer namun baik hati. Beberapa bulan sebelumnya sebenarnya sudah ingin mengikuti kelas ini namun maju mundur karena takut bener sama kata sadisnya itu lho, kawatir-kalau belum-belum sudah tereliminasi karena ditengah kesibukan yang bejibun.  Bahkan saya sudah menunggu sejak batch #2 . Akhirnya bismillah demi hidup yang lebih baik, lebih layak maka saya pun memberanikan diri mengikutinya. Dan Alhamdulillah seatnya masih ada jadi langsung bismillah daftar. Saat saya daftar konon sekitar semingguan fullseat, setelah batch saya hanya 2 jam saja sudah fullseat. Makanya sampai ada waitinglist. Dan kini saya sedang waiting list tingkat advance.

Sadis biasa kami para peserta artikan sangat disiplin, tak hanya beberesnya saja yang sadis. Disiplin mengumpulkan tugas, absen serta aktif mengikuti materi dan diskusi adalah kegiatan yang wajib dilakukan setiap hari dengan jam yang sudah ditentukan oleh mentor,  kecuali hari libur yaitu hari kamis dan ahad. Penilaian sang coach bener-benar disiplin dan kalau sekali tidak mengumpulkan tugas atau absen kami mendapat nilai nol, maka otomatis kalau sudah 4 kali nol maka akan di DO (Drop Out) alias di dikeluarkan dari group. Dan otomatis tidak lulus. Berapa banyak teman saat itu tidak menikmati kelulusannya karena harus DO duluan sebelum kelas berakhir. Apakah ada yang mengulang? Ada. Karena DO batch sebelumnya akhirnya daftar lagi. Saya sendiri mencoba bertahan agar bisa mendapatkan ilmu secara utuh hingga akhir kelas. Ohya kelas ini tak hanya kelas materi saja, tapi ada workshop atau prakteknya sehingga benar-benar meresap di hati dan pikiran kami.

Sebelum berbenah kami mendapat tugas yaitu, menuliskan tentang harapan mengikuti kelas ini. tentu harapan terbesarnya adalah rumah jadi bersih dan rapi serta plong karena berkurangnya barang yang ada di rumah. dan minimnya barang ini bukan berarti kita tidak punya apa-apa tapi mengurangi barang yang tidak dipakai seperti hidup minimalis ala babang Fumio  Sasaki dan beberes ala tante Marie Kondo.  Pra tugas selanjutnya adalah menuliskan secara terperinci kondisi tempat tinggal dan juga perilaku penghuninya dan perasaan ketika menghuninya. Ya Rabb, saya malu sesi ini. Malu sama Allah sudah menitipkan rumah mungil ini ternyata kami belum bisa menjaga dan merawatnya dengan baik. Dan perilaku penghuninya masih suka bersih-bersih sekedarnya saja. Memasuki masa tugas benar-benar kami tidak boleh salah baca, tertinggal atau alasan lainnya. Mentor tidak akan menerima alasan apapun makanya kudu hati-hati dalam membaca informasi.

Tugas pertama adalah membuat mindset tentang berbenah. Apa gunanya mindset ini? gunanya adalah ketika saya lelah beberes maka dengan melihat ini maka akan bersemangat kembali. Mindset ini seperti visi besar kami para peserta untuk berbenah di rumah. Sehingga ditulisnya mindset ini seperti peletup semangat saat kami lelah hayati.

Tugas kedua adalah  memfoto kondisi ruang atau item yang akan menjadi korban pertama kesadisan berbenah. Atau Bahasa kerennya “before” nya deh. Alhamdulillah, tugas ini hanya dikirim ke teteh mentor saja. Biasanya ada beberapa tugas yang lainnya harus di posting di media social.

Tugas ketiga mencatat jadwal berbenah. Nah jadwal ini kita sendiri yang buat sesuai dengan kemampuan dan waktu yang kita punya, hanya saja dibatasi tidak sampai kelas ini berakhir. Kelas dengan lama 25 hari ini ternyata tidak 100% bisa beberes sesisi rumah. tapi Alhamdulillah mendekatilah. Berikut jadwal saya beberes waktu itu:

a.   Pakaian : 24 sd 29 maret 2020 dirinci lagi pakaian bunda, ayah, anak, tas,sepatu dll

b.   Rak buku : 30 maret – 5 april 2020:  dirinci rak buku sekolah, rak buku umum, rak buku di ruang baca anak.

c.   Dapur: 11 April 2020 dirinci kitchen setnya dan meja makannya

d.   Komono atau Pernak-pernik : 18-19 April 2020.

e.   Barang sentimentil :Kertas dan foto: 20 April 2020

Dari sekian kategori yang akan diberesin ini ternyata setelah dipraktekkan yang paling lama adalah pernak-pernik,kebayang kan jumlahnya soalnya didalammnya ada mainan para bocah, juga barang sentimentil bukan jumlahnya yang membuat lama tapi mikirnya buang tidaknya yang bikin lama, secara disana ada foto kenangan, sertifikat kenangan dll.  dan paling cepat adalah kategori pakaian. Eh iya dan kali pertamanya tugas 3 ini saya mendapat nol bulat #eh harusnya paling akhir jam 13.00 hari itu saya kirim 13.22.

Tugas keempat adalah pertanyaan sudah pernah pernah melipat ala konmari apa belum. Heu-heu sebenarnya sudah setahun ini melipat baju si kakak kembar ala konmari, tapi ternyata setelah saya ikut kelas ini lipatan saya tanpa ilmu, ngasal bahasanya. Nah ikut kelas ini jadi tahu cara melipat yang benar ala konmari. Jadi ingat amal tanpa ilmu adalah musibah.

Tugas kelima adalah menghitung kategori pakaian dan berapa yang akan disimpan. Baru juga tugas lima ternya saya sudah mabuk di tugas ini soabt. Betapa banyak kategori ini. kalau di hitung hampir 600 an kategori pakaian ini termasuk pakaian, tas, sepatu dan kaoskaki. Jumlah penghuni rumah 6 orang, berarti rata-rata 100 per orang nih. Banyak banget yak! Tapi bismillah sortir harus segera mugngkin takut baying-bayang syetan untuk bisikin saya “eman” atau saying-sayang. Ohya yang sama pula harus cari rak atau kardus yang support untuk melipat ala konmari.

Tugas keenam menulis jumlah buku, ini juga termasuk kategori yang jumlahnya sangat banyak. Ada 942 buku di rumah dan hanya berani meninggalkan 800 an saja. Kalau baju sudah tahu harus dikemanakan hasil sortirannya, kalau buku bingung, tidak semua orang mau memanfaatkannya alias membacanya.

Tugas ketujuh adalah menulis jumlah komono. Untuk kategori kali ini saya ampun. Tidak bisa menghitung jumlahnya, selain banyak jumlahnya, dia juga berada dimana-mana. Nah makanya perlunya menyortir dan memberi “rumah” atau tempat buat mereka. Masih ingat kata sang mentor. Setiap barang harus mempunyai rumah alias tempat.  Dan agar mudah, semua dilabeli agar memudahkan saya dan penghuni rumah untuk mengidentifikasi.

Tugas kedelapan adalah barang senrtimentil termasuk didalamnya adalah kertas, foto, dan video baik yang cetak maupun file di gawai dan laptop. Saya yang punya hobi memfoto tapi bukan foto diri sih ”selfie” harus merelakan belasan ribu foto yang tak mungkin saya lihat kembali untuk didelete atau dibakar. Padahal diantaranya foto zaman semono. Kata sang mentor, tidak perlu semua dikenang, ayo tatap masa depan saja.

Tugas kesembilan adalah mengkategorikan mainan anak sesuai tingkat perkembangan anak berikut jumalahnya. Kenapa disesuaikan tingkat perkembangan anak, kawatirnya mainan yang sudah ga cocok untuk anak besar masih saja kita simpan. Nah, numpuk lagi kan. Kategori ini paling sulit juga. Tiap mau buang eh si bocah kekeh mempertahankan. Tapi rayuan jitu bunda Alhamdulillah si sholih merelakan meski bertahap.

Tugas kesepuluh berkenalan dan save 103 nomer dan nama peserta. Meski 2 hari waktunya ternyata cukup melelahkan save dan kenalan serta menjawab kenalan teman juga. Imagine sobat. Kata si teteh mentor lah masak iya hampir 20 hari ga kenalan sama teman di group. Meskipun di group sudah kenalan, pastinya jarang ada yang save satu-satu, makanya dengan wapri sendiri-sendiri maka akan lebih berasa kenalannya. Alhamdulillahnya tidak pas awal masuk kelas, karena jumlah 103 ini sisa yang bertahan dikelas.

Tugas kesebelas memilih review teman yang terbaik. Ini juga termasuk sulit setelah karena harus jalan-jalan ke semua facebook 103 teman, dan memilih yg terbaik. Ohya Alhamdulillah di poin kenalan tadi kami sudah saling memberitahu link facebooknya jadi agak mudah menemukan tulisan reviewnya. Sayangnya yang saya pilih tidak masuk juara.:)

Tugas keduabelas memilih foto terbaik teman nah inipunmengharuskan saya berjalan-jalan keliling Indonesia bahkan mancanegara. Karena kebetulan juga ada peserta orang Indonesia yang tinggal di luar negeri otomatislah saya pun jalan-jalan semalaman.

Tugas ketigabelas adalah mereview seluruh kegiatan selama kelas ini berlangsung mulai before dan afternya. Tugas ini paling mengesankan, karena bisa melihat foto before afternya milik saya sendiri dan juga teman-teman masya Allah.

Selain setigabelas tugas tersebut masih ada tugas-tugas lain, yang harus saya posting langsung di media social facebook. Secara keseluruhan kelas berbenah ini its work banget buat saya dan keluarga. Pada intinya berbenah itu butuh ilmu, jangan ngasal. berbenah itu butuh komunitas agar frekuensinya sama. Berbenah juga butuh dukungan, Dan terakhir semangat berbenah kita akan berdampak pada kesejukan jiwa para penghuninya dan yang pasti penghuni lainnya pun ikutan berbenah juga.

 

(Bersambung)

 

Minggu, 22 Maret 2020

HSH

Home Sweet Home katanya.......

Yuk di syukuri saja.......
apapun yang terjadi pasti ada hikmah dibaliknya
apapun yang kita temui Alloh sudah menyiapkan sesuatu untuk membersamainya
pun juga adanya wabah yang mengintai negeri ini, juga negeri-negeri lainnya.

Yuk di syukuri saja.......
mungkin alloh punya rencana indah kepada kita
yang biasa berhamburan, kesana kemari meninggalkan anak istri terlalu lama (meskipun seharian.....lama lho)
kini Alloh sedang meminta kita stay athome bersama mereka, anak-anak terutama
yang mungkin mahal sekali momen ini weekdays ataupun weekend

Yuk di syukuri...........
ternyata kita tak lebih sabar dibandingkan dengan guru-guru anak-anak
ternyata kita tak lebih pintar dari anak-anak kita, kadang mereka minta diajarin, eh mereka pula yang protes cara ngajar kita atau jawaban kita ndak kayak gurunya.


Yuk di syukuri saja.....
Biasanya kita agak tidak perhatian sama perilaku hidup bersih dan sehat
sekarang Alloh sedang mengajari kita, dengan cara seperti ini.
sampai-sampai luarbiasa seringnya.

Yuk disyukuri........
meskipun terjadi pembengkakan luarbiasa dalam peengeluaran
meskipun harus masak bolak-balik
meskipun cuci piring belum kering dah minta maem lagi
meskipun harus ngepel yang belum kering di pel lagi
meskipun harus ngerapikan mainan yang habis dirapiin.

yuk di syukuri saja.....
tandanya anak-anak sehat
tandanya ayah bundanya juga sehat

Semoga Alloh melindungi kita semua