Tampilkan postingan dengan label Omah Ijo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Omah Ijo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2020

BUMBU DASAR ALA OMAH IJO

 

doc. pribadi

Suka masak tapi tidak punya waktu buat bumbunya? Nah, wajib untuk kita sobat menyediakan bumbu dasar di kulkas kita. Mengapa demikian agar kita tidak perlu repot menyiapkan bumbu disetiap kita akan memasak di rumah. Karena terkadang memasak itu yang lama adalah membuat bumbunya.

Sebenarnya kalau kita tahu hampir semua jenis masakan asli Indonesia menggunakan bumbu dasar, olehkarena nya dengan menyetok bumbu dasar di kulkas maka akan membuat kita lebih hemat waktu dalam hal urusan memasak, dan tentunya ini sangat cocok untuk ibu yang bekerja atau buat para ayah yang berperan memasak namun bumbu dari ibu yang menyediakan.

Seperti dikeluarga saya, yang mempunyai peran memasak adalah suami. Agar sesuai dengan selera lidah ketika saya yang memasak, maka saya berusaha menyiapkan bumbu dasar untuk berbagai jenis masakan. Biasa saya siapkan di hari libur untuk bisa dipergunakan 2-3 pekan kedepan. Tentunya ini sangat memudahkan suami dalam memasak karena anak-anak terbiasa dengan masakan saya, Sedangkan  kini peran di rumah berganti, suami yang masak saya yang handle para bocah. Baiklah berikut resep bumbu dasar ala-ala kami, penghuni omah ijo (red. Rumah berwarna hijau)

3 JENIS BUMBU DASAR

1.      BUMBU DASAR PUTIH

Bahan: 100 gram bawang putih

            100 gram bawang merah

            2 cm jahe

 Cara memasak:

 Semua bahan dibender, dan setelah itu di tumis hingga harum.

 

 Kegunaan:  Sup, tumisan, nasi-mie goreng,  semur dll.

 

2.      BUMBU DASAR KUNING

Bahan :  100 gram bawang merah

             50 gram bawang putih

             10 butir kemiri sangrai

              2 cm lengkuas

              2 cm jahe

              2 sdt ketumbar

              1 sdt merica

 

Cara memasak:

Semua bahan di blender, dan setelah itu di tumis hingga harum.

 

Kegunaan: Soto ayam, nasi kuning, pepes, ayam goring dll

 

3.      BUMBU DASAR MERAH

Bahan:  100 gram cabe merah

            100 gram bawang merah

               50 gram bawang putih

               10 butir kemiri sangrai

                  3 cm jahe, iris tipis

                  2 cm lengkuas, iris tipis

                  2 sdt ketumbar

 

Cara memasak:

Semua bahan di blender, setelah itu di tumis hingga harus.

 

Kegunaan: sambal goreng, tumisan pedas, balado, rendang dll

 

Catatan:

1. Saat memblender membutuhkan minyak secukupnya, begitu juga saat menumis.

2. Gula dan garam diberikan saat memasak dan sesuai selera.

3. ketika mengambil, pakai sendok kering dan bersih setelah itu kembalikan ke kulkas.

 

Sebenarnya tentang bumbu dasar ini tidak hanya 3 macam, bahkan ada yang menyebutkan 4, 5 bahkan 6 macam. Tambahannya adalah bumbu dasar oranye, bumbu dasar hitam, dan sambal kacang. Semua tergantung kebutuhan dan juga selera. Sementara untuk kami 3 jenis bumbu dasar ini sudah cukup. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

 

Jumat, 09 Oktober 2020

BUDIDAYA IKAN DI EMBER ALA OMAH IJO (SEBUAH CERITA)

 

 


“Yuk Bi bikin budikdamber di ember!” obrolan ringan dengan suami di suatu sore di akhir bulan April. Saat itu pandemi baru berumur dua bulan.  Viralnya budikdamber ini memantik semangat kami untuk merealisasikan budikdamber di rumah kami juga. Apalagi kami yang tinggal di perumahan, tak punya lahan yang luas sepertinya budidaya dalam ember ini cocok sekali diterapkan di rumah kami. Selain itu alasan yang lainnya adalah kami harus bersiap untuk kebutuhan pangan di rumah agar tidak banyak keluar rumah, karena saat itu kami mikir pandemic ini kedepan masih unpredictable.

Sebulan lebih setelah obrolan ringan itu, ternyata pak suami baru merealisisr rencana kami ini. Alhamdulillah jeda waktu rencana dan realisasi saya pakai untuk mencari ilmu tentang budikdamber ini via media sosial dll. Menurut saya sekilas tidak terlalu sulit. Apalagi kami yang masih pemula dan baru kali pertama mencoba budidaya ikan di ember ini.  Tepat tanggal 23 Juni sepulang dari kantor saya mampir beli bibit ikan di tempat pembenihan ikan  tak jauh dari rumah. Tempat ini kami dapat infonya dari  mencari informasi dimana bisa beli bibit ikan dari seorang teman. Harga bibit lele saat itu 20.000 per 150 ekor ukuran jari kelingking. Karena waktu menunjukkan pukul 2 siang, pihak pembibitan menyarankan untuk tidak beli dulu ikan Gurami. Karena Gurami ini gampang stress jadi bisanya di ambil kalau pagi hari atau sore hari saja.

Baiklah kamipun membeli ikan lele dulu. Keesokan harinya kami baru beli bibit ikan gurami yang soal harga jauh lebih mahal dibandingkan dengan ikan lele yaitu 75.000 untuk 50 ekor seukuran telapak tangan bayi. Lantas hal apa saja yang kami siapkan untuk budidaya ikan di ember ini.

Pertama, ember berukuran minimal 85 Liter harga didaerah saya Rp. 65.000, kebetulan kami sudah mempunyai dua ember sebelumnya. Jadi hanya nambah 1 buah ember saja.

Kedua, Pakan ikan. Alhamdulillah saat membeli ikan kamipun dapat referensi dimana bisa beli pakan ikan. Ternyata letaknya juga tak jauh dari tempat pembenihan itu. Dan disana sekalian beli jarring.

Ketiga, jaring. Jaring ini fungsi nya untuk menjaring ikan saat panen atau saat membersihkan embernya.

Keempat, air. Tentu saja air ini adalah hal utama dalam memelihara ikan. Jika kotor ya segera dibersihkan.

Tambahan lainnya adalah arang,tisu dan bibit kangkung, botol bekas dan kawat.

Setelah hampir 2 mingguan kami budidaya ikan ini, Alhamdulillah si lele aman-aman saja. Hanya mati satu ekor, namun kangkung yang kami taruh diatasnya dengan media arang kemudian benih ditaburkan di atasnya dilapisi tisu ahgar tak jatuh kedasar ternyata tidak tumbuh sama sekali. Padahal kami sudah cari ilmunya tentang budiddaya kangkung diatas ember. sempat berkali-kali lihat video tutorialnya, kayaknya ga ada yang salah kok ya masih tidak bisa tumbuh. Akhirya kami turunkan dan kami coba ganti arang dengan tanah, kemudian untuk kangkung kami pakai konsep regrow (menumbuhkan kembali dari batang) kangkung yang kami beli daunnya kami masak, batangnya kami tanam. Ternyata tiga hari kemudian muncul dedaunan dan seger masya Allah.

Terus bagaimana dengan si Gurami. Qodarullah dari 50 Gurami yang mati sekitar 30 ekor. Kami cari tahu mengapa ini terjadi. Ternyata setelah diselidiki, karena matanya kuning berarti ini keracunan makanan alias kebanyakan makanan begitu menurut sumber di youtube. Selain itu mungkin juga fator tempat yang untuk ikan jenis sensitive seperti Gurami ini butuh lebih luas tempatnya. Jadi kalau di ember ukuran di atas 100 liter mungkin lebih luas.

Dan itu tidak mati sekali waktu, berturut-turut selama beberapa hari. Namun setelah air diganti dengan jumlah lebih sedikit serta pemberian makanan yang lebih tertib membuat Gurami pun awet di usianya 3 bulan ini. Kami harus bersabar hingga 9 bulan baru bisa dipanen. Berbeda dengan ikan lele yang menurut info lebih tahan musim dan cepat panen. Bayangan kami bulan Oktober inilah saatnya kami panen. Lele yang berada di dua ember ini, qodarullah pisan mati sekitar 100 ekor di salah satu bak. Padahal sudah siap panen.  Kalau dari warnanya sama, kuning sepertinya induikasinya juga sama karena kebanyakan makanan ditambah beberapa hari lalu ukuran makanan lebih besar dari sebelumnya. Huwa…akhirnya sisa 35 an ekor ini kami rawat dengan baik.

Mau memanen pun tak segera kami realisasikan, malah kasihan. Sedangkan kangkung yang berada di atas nya sudah berkali-kali panen. Setelah kami pikir ternyata, masya Allah adanya ikan ini menjadi hiburan tersendiri di rumah kami. Selain kami, anak-anak pun juga sangat senang memelihara ikan ini, bahkan mereka lah yang bertanggung jawab menyiram kangkung dan memberi makan ikannya. Maka Nikmat manalagi yang kamu dustakan?! (Arrahman)